Do’a adalah sebab dan faktor yang paling kuat untuk menolak segala sesuatu yang tidak diinginkan dan
untuk menjadikan tercapainya segala tujuan dan cita-cita. Akan tetapi
kadang-kadang do’a itu tidak ada bekasnya atau tidak ada hasilnya, mungkin
karena lemahnya do’a orang yang berdo’a itu, sehingga do’anya tidak diterima
oleh Allah. Atau mungkin karena lemahnya jiwa orang yang berdo’a, mungkin juga
karena adanya penghalang untuk dikabulkannya sebab dari makan makanan yang
haram atau perbuatan aniaya dan atau sebab kotoran dosa yang menyelimuti jiwa
serta dia selalu dikuasai oleh kelengahan, kealfaan, dan hawa nafsu.
Sa’ad bin Malik ra berkata,”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sukakah
kamu semua saya tunjukkan nama Allah yang ter-Agung, yang jikalau digunakan
untuk berdo’a dengannya itu maka Allah mengabulkan, dan jikalau diminta maka
memberi? Yaitu do’a yang dengannya itulah Yunus AS memohon kepada Allah agar
diselamatkan (yakni ketika memanggilNya dalam kegelapan tiga macam-kegelapan,
dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk, karena saat itu Yunus AS ada dalam perut
ikan hiu yang menelannya). Do’a itu adalah; laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzdzoolimiina(Tiada
Tuhan melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya hamba ini termasuk
golongan orang yang menganiaya diri sendiri).’ Seorang sahabat bertanya,’Ya
Rasulullah, apakah do’a itu khusus untuk Nabi Yunus AS saja ataukah untuk semua orang mukmin?’
Nabi SAW bersabda; ‘Apakah engkau tidak pernah mendengar firman Allah yang
artinya; Dan Kami (Allah) menyelamatkan Yunus dari kedukaannya dan demikian itu
pula Kami menyelamatkan semua orang mukmin.” (HR. Hakim).
Hujjatul Islam,Imam Al-Ghazali
dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan tentang adab-adab berdo’a:
Pertama, hendaknya
menunggu-nunggu dan meneliti waktu-waktu yang mulia untuk memanjatkan do’anya
itu, seperti pada hari ‘Arafah dalam setiap tahunnya, bulan Ramadhan diantara
segala macam bulan, hari Jumat diantara hari-hari dalam seminggu dan waktu menjelang pagi (waktu sahur)
diantara waktu-waktu malam hari. Allah SWT berfirman: “Pada waktu (sahur) mereka itu sama-sama memohon pengampunan.”(QS.
Adz-Dzariyat : 18)
Kedua, hendaklah
jangan menyia-nyiakan waktu yang dianggap mulia, seperti di saat berkecamuknya
barisan-barisan dalam medan peperangan untuk sabilillah (menegakkan agama Allah), diwaktu turunnya hujan lebat,
diwaktu didirikannya shalat fardlu, antara adzan dan iqomah, dan juga di kala
sedang bersujud. Namun pada hakekatnya keutamaan waktu itu pulang kembali pada
keutamaan keadaan, seperti waktu sahur(sepertiga malam terakhir) misalnya, itu
adalah waktu yang sangat jernih bagi setiap hati manusia, penuh pula
keikhlasannya, dan lepas pula dari semua godaan dan gangguan.
Ketiga, hendaklah
seseorang yang berdo’a itu dengan menghadap kiblat sambil menganggkat kedua
tangannya,lalu diusapkan tangannya diwajahnya setelah selesai berdo’a. Umar r.a.,
berkata; “Rasulullah SAW apabila berdo’a
sambil mengangkat dua tangannya. Maka tidaklah akan diturunkannya kedua tangannya
itu sehingga diusapkannya(dulu) diwajahnya.” (Hr. At-Tirmidzi)
Ibnu Abbas juga
menjelaskan demikian, “Rasulullah SAW
apabila berdo’a selalu mengumpulkan kedua telapak tangannya dan bagian dalam
kedua telapak tangannya itu dihadapkan di arah wajahnya.”
Keempat, hendaklah
dalam berdo’a itu disertai rasa rendah diri, khusyu, penuh harapan dan
keinginan serta takut.
Ketujuh, harus punya
keyakinan bahwa do’anya itu akan dikabulkan.
Kedelapan, hendaklah
bersungguh-sungguh agar do’anya dikabulkan. Diulangilah dan terus diulangi.
Kesembilan,
berdzikirlah terlebih dahulu jangan tergesa-gesa untuk menyampaikan permohonan.
Kemudian hendaklah membaca solawat nabi dan menutup do’a dengan solawat pula.
Kesepuluh, terlebih
dahulu mengerjakan adab batiniah dan inilah yang merupakan pokok untuk
dikabulkannya do’a. Caranya ialah dengan bertaubat, dzikir dengan do’a karab(kemalangan) dengan kalimah;”laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii
kuntu minadzoolimiin (Tiada Tuhan melainkan Engkau,Maha Suci Engkau, sesungguhnya
hamba ini termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri).”(HR.At-Tirmidzi)
Mengembalikan segala
sesuatu berasal dari perbuatan dzolim, menghentikan kedzoliman yang dilakukan,
benar-benar menghadapkan hati dan jiwa kepada Allah ‘Azza wa jalla dengan
memusatkan perhatian yang sepenuhnya. Inilah yang dapat mendekatkan terkabulnya
do’a.
Baarakallaahu
lii walakum.***
(Lili Guntur)

Komentar
Posting Komentar