Langsung ke konten utama

Adab-adab Berdo'a

Do’a adalah sebab dan faktor yang paling kuat untuk menolak segala sesuatu yang tidak diinginkan dan untuk menjadikan tercapainya segala tujuan dan cita-cita. Akan tetapi kadang-kadang do’a itu tidak ada bekasnya atau tidak ada hasilnya, mungkin karena lemahnya do’a orang yang berdo’a itu, sehingga do’anya tidak diterima oleh Allah. Atau mungkin karena lemahnya jiwa orang yang berdo’a, mungkin juga karena adanya penghalang untuk dikabulkannya sebab dari makan makanan yang haram atau perbuatan aniaya dan atau sebab kotoran dosa yang menyelimuti jiwa serta dia selalu dikuasai oleh kelengahan, kealfaan, dan hawa nafsu.
Sa’ad bin Malik ra berkata,”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sukakah kamu semua saya tunjukkan nama Allah yang ter-Agung, yang jikalau digunakan untuk berdo’a dengannya itu maka Allah mengabulkan, dan jikalau diminta maka memberi? Yaitu do’a yang dengannya itulah Yunus AS memohon kepada Allah agar diselamatkan (yakni ketika memanggilNya dalam kegelapan tiga macam-kegelapan, dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk, karena saat itu Yunus AS ada dalam perut ikan hiu yang menelannya). Do’a itu adalah; laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzdzoolimiina(Tiada Tuhan melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya hamba ini termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri).’ Seorang sahabat bertanya,’Ya Rasulullah, apakah do’a itu khusus untuk Nabi Yunus  AS saja ataukah untuk semua orang mukmin?’ Nabi SAW bersabda; ‘Apakah engkau tidak pernah mendengar firman Allah yang artinya; Dan Kami (Allah) menyelamatkan Yunus dari kedukaannya dan demikian itu pula Kami menyelamatkan semua orang mukmin.” (HR. Hakim).
Hujjatul Islam,Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan tentang adab-adab berdo’a:
Pertama, hendaknya menunggu-nunggu dan meneliti waktu-waktu yang mulia untuk memanjatkan do’anya itu, seperti pada hari ‘Arafah dalam setiap tahunnya, bulan Ramadhan diantara segala macam bulan, hari Jumat diantara hari-hari dalam seminggu  dan waktu menjelang pagi (waktu sahur) diantara waktu-waktu malam hari. Allah SWT berfirman: “Pada waktu (sahur) mereka itu sama-sama memohon pengampunan.”(QS. Adz-Dzariyat : 18)
Kedua, hendaklah jangan menyia-nyiakan waktu yang dianggap mulia, seperti di saat berkecamuknya barisan-barisan dalam medan peperangan untuk sabilillah (menegakkan agama Allah), diwaktu turunnya hujan lebat, diwaktu didirikannya shalat fardlu, antara adzan dan iqomah, dan juga di kala sedang bersujud. Namun pada hakekatnya keutamaan waktu itu pulang kembali pada keutamaan keadaan, seperti waktu sahur(sepertiga malam terakhir) misalnya, itu adalah waktu yang sangat jernih bagi setiap hati manusia, penuh pula keikhlasannya, dan lepas pula dari semua godaan dan gangguan.
Ketiga, hendaklah seseorang yang berdo’a itu dengan menghadap kiblat sambil menganggkat kedua tangannya,lalu diusapkan tangannya  diwajahnya setelah selesai berdo’a. Umar r.a., berkata; “Rasulullah SAW apabila berdo’a sambil mengangkat dua tangannya. Maka tidaklah akan diturunkannya kedua tangannya itu sehingga diusapkannya(dulu) diwajahnya.” (Hr. At-Tirmidzi)
Ibnu Abbas juga menjelaskan demikian, “Rasulullah SAW apabila berdo’a selalu mengumpulkan kedua telapak tangannya dan bagian dalam kedua telapak tangannya itu dihadapkan di arah wajahnya.”
Keempat, hendaklah dalam berdo’a itu disertai rasa rendah diri, khusyu, penuh harapan dan keinginan serta takut.
Ketujuh, harus punya keyakinan bahwa do’anya itu akan dikabulkan.
Kedelapan, hendaklah bersungguh-sungguh agar do’anya dikabulkan. Diulangilah dan terus diulangi.
Kesembilan, berdzikirlah terlebih dahulu jangan tergesa-gesa untuk menyampaikan permohonan. Kemudian hendaklah membaca solawat nabi dan menutup do’a dengan solawat pula.
Kesepuluh, terlebih dahulu mengerjakan adab batiniah dan inilah yang merupakan pokok untuk dikabulkannya do’a. Caranya ialah dengan bertaubat, dzikir dengan do’a karab(kemalangan) dengan kalimah;”laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzoolimiin (Tiada Tuhan melainkan Engkau,Maha Suci Engkau, sesungguhnya hamba ini termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri).”(HR.At-Tirmidzi)
Mengembalikan segala sesuatu berasal dari perbuatan dzolim, menghentikan kedzoliman yang dilakukan, benar-benar menghadapkan hati dan jiwa kepada Allah ‘Azza wa jalla dengan memusatkan perhatian yang sepenuhnya. Inilah yang dapat mendekatkan terkabulnya do’a.
Baarakallaahu lii walakum.***
                                    (Lili Guntur)

Komentar