Langsung ke konten utama

Ilmu Penuntun Amal



Orang yang sudah kuat kondisi keimanannya hidupnya akan selalu roja (optimis). Karena dia yakin Allah maha pemberi solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi. Ketika dihadapkan  pada sebuah permasalahan tidak akan mencari solusi dengan cara-cara yang bathil (bertentangan dengan hukum Allah). Karena dia sadar, segala permasalahan yang menimpa konon adalah buah akibat dari perbuatannya sendiri (thaairukum ma’akum/Yasin: 19)
           
Orang beriman akan memiliki kepribadian yang pinuji. Tidak su’udzon, tidak gampang mencari kambing hitam,dan tidak mudah menyalahkan orang lain. Namun senantiasa akan mengembalikan setiap persoalan hanya kepada Allah (wallaahu turjaa’ul umur = dan dikembalikan semua urusan hanya kepada Allah) yang ditindaklanjuti dengan upaya menyempurnakan ikhtiar sebagai ladang amal shaleh seraya berdo’a kepada Allah dengan do’a karab (do’a kemalangan) seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Yunus as ketika ditelan ikan hiu. Nabi Yunus as tak henti-hentinya berdzikir dan berdo’a dengan do’a karab (laailaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadhdhaalimiin = tiada Tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau,sesungguhnya hamba ini termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri).
           
Agar memiliki kepribadian yang pinuji (sebuah pribadi yang arif bijaksana). Tenang,tidak grasak-grusuk, hanya dapat dicapai manakala seseorang memiliki ilmu. Karena ilmu adalah penuntun amal. Kedudukan ilmu lebih utama daripada amal. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang dua orang; yang satu ahli ibadah,yang satunya lagi orang berilmu. Maka beliau menjawab,”Kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah sama dengan kelebihanku atas orang yang paling hina diantara kalian.”
            Dalam hadits lainnya Nabi SAW menegaskan, “Kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah ialah seperti kelebihan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang gemintang. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu adalah para pewaris nabi-nabi. Mereka (Nabi) itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu, berarti dia telah memgambil bagian yang banyak.” (HR. Ibn Majah,Ibn Hiban)
            Artinya, untuk meraih derajat kehidupan yang baik syaratnya harus berilmu. Sehingga Rasulullah SAW dalam haditsnya kembali menegaskan,”Mencari ilmu itu wajib atas setiap orang muslim.” (HR.Ahmad,Ibn majah)

            Kalangan mufassir (ahli tafsir) dan muhaddits (ahli hadits) mengatakan, dengan mempelajari dan memahami al-Quran dan alhadits(sunnah) seseorang bisa mencapai semua cabang ilmu. Maka jika seorang anak mulai beranjak besar, pertama-tama yang harus dia pelajari adalah dua kalimah syahadat dan memahami maknanya (sekalipun pemahaman itu tidak harus dengan penelaahan dan penyertaan dalil). Kemudian jika anak sudah tiba waktunya untuk mendirikan shalat, maka dia harus mempelajari cara bersuci dan cara-cara shalat dengan benar sesuai yang dicontohkan (diajarkan Rasulullah SAW). Allah SWT berfirman,”Dan apa-apa yang diajarkan (dicontohkan) oleh Nabi SAW maka laksanakanlah, dan apa-apa yang tidak diajarkan(dicontohkan) oleh Nabi SAW tinggalkan.”(QS.Al- Hasyr : 7). Jika tiba bulan Rhamadhan dia harus belajar saum. Jika kelak mempunyai harta dan mencapai nisab untuk berzakat maka dia harus mempelajari masalah aturan zakat. Jika tiba musim haji dan memungkinkan baginya untuk beribadah haji, maka dia harus mempelajari manasik haji dan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan haji.
           
Itulah langkah awal yang harus diajarkan dan diterapkan kepada anak tentang kewajiban mencari (mempelajari) ilmu. Dan janganlah mempelajari ilmu-ilmu yang tercela karena akan membawa madlorot (kecelakaan diakherat kelak). Seperti ilmu sihir, ilmu perdukunan, dan ilmu sulap atau ilmu makar (penipuan). Ibn Qudamah dalam kitabnya (Minhajul Qashidin) menjelaskan tentang ilmu yang wajib kita pelajari, adalah ilmu syar’iyyah yang terbagi kedalam empat macam:
1.      Ilmu ushul (dasar), yaitu kitabullah (al-Qur’an) dan sunnah Rasul (hadits), ijma ummat dan perkataan para sahabat.
2.      Ilmu furu’ (cabang), yaitu apa yang dipahami dari dasar – dasar ini, berupa berbagai pengertian yang memberikan sinyal kepada akal, hingga dapat memahami apa yang seharusnya dipahami, seperti pengertian yang diambil dari sabda Rasululah SAW. “Hakim tidak boleh membuat keputusan selagi dia sedang marah”, yang berarti dia juga tidak boleh membuat keputusan hukum selagi sedang lapar.
3.      Ilmu muqaddimat (pengantar), yaitu ilmu yang berfungsi sebagaimana alat, seperti ilmu nahwu dan ilmu bahasa yang menjadi alat untuk memahami al-Qur’an dan hadits.
4.      Ilmu mutammimat (pelengkap), seperti ilmu cara-cara membaca mahraj dan pelapalan (pengucapan) huruf-huruf al-Qur’an,inilah yang disebut ilmu tajwid.

Itulah yang dimaksud ilmu syar’iyyah yang wajib kita pelajari dan kita pahami. Maka dengan bertambahnya ilmu (meskinya) kita semakin takut akan adzab Allah. Kita akan lebih hati-hati dalam menapaki langkah kehidupan supaya tidak tergelincir menempuh jalan yang sesat.
Baarakallaahu lii walakum.***

                                                      (Lili Guntur)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tipu Daya Syetan

      Misi yang di emban syetan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menggoyahkan keimanan seseorang. Godaan-godaan syetan dalam menjerumuskan manusia tersebut bisa berupa dengan cara menyuguhkan segala kesenangan, kenikmatan, kemaksiatan, dan kemunkaran dalam bingkai yang indah menawan. Dengan cara ini manusia diharapkan bisa terseret kedalam “samudra” buatan syetan.             Allah SWT berfiman ; “Sesungguhnya syetan itu hanyalah hendak mengadakan diantaramu permusuhan dan kebencian (lewat) minuman keras dan judi, dan menghalangimu daripada mengingat Allah dan daripada shalat. Oleh sebab itu, belum jugakah kamu mau berpikir?” (QS. Almaidah : 91)             Syetan itu amat pandai menutupi kejahatan dengan kebaikan atau keberuntungan. Sepertihalnya; judi, khamer (minuman keras),dan perjinahan. 1.       Tentang J...

Tentang Khalwat (bertapa)

Jangan sampai salah cara dalam mencari hidayah Allah SWT. Barangkari itulah yang ingin ditegaskan KH.Miftah Fadidl, dalam artikelnya berjudul “Aliran Sesat” (Pikiran Rakyat,edisi 7 Juni 2012) terkait larangan bertapa.             Beliau mengatakan, ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dapat melalui saum, tahajud, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Justru ketika bertapa,kata beliau, syetan akan lebih mudah masuk.             Ma’asyiral muslimin, ketika Nabi SAW dirundung malang, beliau mencari pencerahan batin dengan cara bertapa atau khalwat (menyepi) di Goa Hiro. Hal itu dilakukannya selama kurang lebih empat tahun disela-sela kesibukannya mengurus bisnis perdagangan bersama Siti Khodijah,istrinya, hingga akhirnya beliau mendapatkan wahyu illahi melalui perantaraan malaikat Jibril.Demikian halnya Nabi Musa AS, beliau mendapat sepul...

Ikhlas

Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.             “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya (pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145) Alkisah, sepulang menunaikan ibadah haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah. Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad Jamal berniat segera mengamalka...