Langsung ke konten utama

Mengeluh Tidak Akan Menyelesaikan Masalah





“Urungkan niat kebutuhanmu kepada orang yang kamu kehendaki, niscaya kamu sederajat dengan dia. Dan berbuatlah baik kepadanya niscaya kamu jadi penguasanya.”

Ungkapan bijak tersebut senafas dengan pepatah  ulama yang mengatakan, janganlah kita membiasakan diri berkeluh kesah atau membicarakan kesusahan kepada orang lain, itu akan mengakibatkan kurangnya rasa (hormat) dan simpati dia. Bahkan lebih jauhnya lagi (mungkin) kita akan dijauhi atau ditinggalkan oleh teman-teman, kerabat atau colega.
            Artinya, mengeluh bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Obat untuk menghilangkan kesusahan atau rasa duka senantiasa positive thinking (selalu berpikiran positif).Pandai memetik hikmah (kebaikan) dari setiap permasalahan yang dihadapi. Allah SWT berfirman : "Dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapapun." (QS.Al-Kahf : 19)

            Terkadang kita juga perlu jaga image (jaim) demi sebuah harga diri. Namun demikian kita juga harus berusaha agar bisa keluar dari permasalahan yang tengah dihadapi. Apa yang bisa dikerjakan, kerjakanlah! Selama pekerjaan itu dapat memberi manfaat. ’Amaluu fasayarallaahu ‘amalukum (Bekerjalah kamu, maka Kami (Allah) akan (memberi upah) atas hasil pekerjaanmu).(at-Taubah: 105)

            Skill atau keahlian yang kita miliki merupakan karunia illahi. Potensi yang harus disyukuri. Maka kembangkanlah dan terus geluti hingga memberikan manfaat dalam kehidupan. Itulah makna bersyukur. Kalangan enterpreneur mengingatkan, kalau kita ingin meraih sukses, memetik hasil dari usaha (pekerjaan) kita, maka lakukanlah pekerjaan itu dengan konsisten dan sungguh-sungguh. Kegagalan jangan dijadikan hambatan dan keluh kesah apalagi putus asa. Allah melarang hambanya berputus asa sebagaimana firmanNya; Wa laa taiasuu min rauhillaahi innahuu laa yaiasuu min rauhillaahi illal qaumul kaafiruuna (Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir). (QS.Yusuf : 87)

           


Ayat tersebut mengajarkan agar kita senantiasa giat bekerja dan berusaha memperbaiki diri (untuk kehidupan). Tidak bermalas-malasan. Kerja keras sesuai dengan profesi adalah kunci keberhasilan! Bagaimana caranya membangkitkan gairah hidup dan semangat  juang? Kuncinya, ingat saja 5B:
1.      Biasakan  hidup sehat (jaga kesehatan)
Beberapa kalangan mengatakan bahwa sehat merupakan modal utama dalam kehidupan. Ketika badan kita sehat, akan leluasa bergerak dan bekerja.
2.      Biasakan bangun pagi
Diawali dengan melaksanakan shalat subuh insya Allah hal itu akan mendatangkan berkah dalam kehidupan. Shalat adalah santapan rohani. Merupakan sarana penghubung antara hamba dengan Allah. Sayyid Shaleh Al-Ja’fari, penulis buku “The Miracle of Shalat” mengatakan, kekuatan shalat sungguh luar biasa. Begitu tinggi nilai shalat sehingga ia menjadi amalan pertama yang dihitung di Yaumul Hisab. Jika amalan seseorang baik maka amalan lainnya akan baik pula. Namun bila amalan shalatnya jelek maka amalan (pekerjaan) lainnya ikut jelek.
3.      Berdo’a
Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar selalu berlindung dari sifat lemah dan pemalas dengan do’a sbb: Allaahumma inni a’uudzubika minalhammi walhajani, wal ‘ajji walkasali, walbuhli waljubni, wadhol’iddaini wagholabatirrijaal, (Ya Allah aku berlindung padamu dari  kebingungan dan kesusahan, dan dari sifat lemah serta malas, dan dari sifat kikir serta penakut, juga dari banyaknya hutang serta   niat buruk orang- orang yang hendak berbuat jahat).(HR. Al-Bukhari)
4.      Baca buku yang bergizi
Jika Anda sulit mendapatkan teman bergaul yang “seirama” tidak ada salahnya bergaul saja dengan buku (membaca buku yang mengandung gizi, yang dapat memberi insfirasi dan motivasi).
5.      Benahi hati
Ini yang paling penting! Pusat penyakit malas adalah hati. Semua akan dapat diselesaikan dengan menyembuhkan hati.
Itulah 5B (biasakan hidup sehat, biasakan bangun pagi,berdo’a,baca buku yang bergizi,benahi hati). Mudah-mudahan kita dapat menerapkan dan melaksanakannnya dalam kehidupan sehari-hari..***
                                                                  (Lili Guntur)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tipu Daya Syetan

      Misi yang di emban syetan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menggoyahkan keimanan seseorang. Godaan-godaan syetan dalam menjerumuskan manusia tersebut bisa berupa dengan cara menyuguhkan segala kesenangan, kenikmatan, kemaksiatan, dan kemunkaran dalam bingkai yang indah menawan. Dengan cara ini manusia diharapkan bisa terseret kedalam “samudra” buatan syetan.             Allah SWT berfiman ; “Sesungguhnya syetan itu hanyalah hendak mengadakan diantaramu permusuhan dan kebencian (lewat) minuman keras dan judi, dan menghalangimu daripada mengingat Allah dan daripada shalat. Oleh sebab itu, belum jugakah kamu mau berpikir?” (QS. Almaidah : 91)             Syetan itu amat pandai menutupi kejahatan dengan kebaikan atau keberuntungan. Sepertihalnya; judi, khamer (minuman keras),dan perjinahan. 1.       Tentang J...

Tentang Khalwat (bertapa)

Jangan sampai salah cara dalam mencari hidayah Allah SWT. Barangkari itulah yang ingin ditegaskan KH.Miftah Fadidl, dalam artikelnya berjudul “Aliran Sesat” (Pikiran Rakyat,edisi 7 Juni 2012) terkait larangan bertapa.             Beliau mengatakan, ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dapat melalui saum, tahajud, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Justru ketika bertapa,kata beliau, syetan akan lebih mudah masuk.             Ma’asyiral muslimin, ketika Nabi SAW dirundung malang, beliau mencari pencerahan batin dengan cara bertapa atau khalwat (menyepi) di Goa Hiro. Hal itu dilakukannya selama kurang lebih empat tahun disela-sela kesibukannya mengurus bisnis perdagangan bersama Siti Khodijah,istrinya, hingga akhirnya beliau mendapatkan wahyu illahi melalui perantaraan malaikat Jibril.Demikian halnya Nabi Musa AS, beliau mendapat sepul...

Ikhlas

Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.             “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya (pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145) Alkisah, sepulang menunaikan ibadah haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah. Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad Jamal berniat segera mengamalka...