Langsung ke konten utama

Guru Harus Memiliki Kematangan Ilmu

Pekerjaan seorang guru tak ubahnya seperti sebuah mutiara yang sangat berharga. Orang sering mengatakan, tugas guru adalah tugas yang paling mulia karena kewajiban guru adalah member pengajaran dan pendidikan.
                                                                                       
            Guru adalah seorang pemberi petunjuk. Ia bekerja untuk menerangi akal pikiran, mendidik jiwa dan memberi cahaya otak. Oleh karena itu seorang guru harus memiliki kematangan  ilmu dan berhati-hati dalam menyampaikan pelajaran kepada anak didik. Seorang guru janganlah mengatakan sesuatu kecuali setelah mengetahui dan memikirkan apa yang hendak dikatakan.

            Jika seorang guru tidak memiliki pertimbangan pembicaraan, maka hal itu akan mendatangkan kerugian yang total. Disinilah dapat dibedakan antara orang yang berakal (ulil albab) dengan orang yang bodoh. Karena sesungguhnya orang yang berakal adalah orang yang senantiasa berpikir dahulu baru kemudian berbicara. Sedangkan orang yang bodoh adalah yang berbicara terlebih dahulu baru kemudian berpikir.

            Kedudukan seorang guru memiliki peranan yang sangat penting, karena murid akan menanyakan dan mencari jawaban mengenai berbagai hal kepada guru. Apalagi pada kondisi sekarang, dimana bisa saja pembahasan-pembahasan ilmu agama dan pembahasan-pembahasan ideology juga disampaikan dikelas. Sesuatu yang diharapkan dari para guru adalah bahwa jika (guru) mengetahui tentang pembahasan yang ditanyakan maka jawablah. Namun jika tidak mengetahuinya maka katakanlah dan terus terang bahwa (Anda) tidak atau belum mengetahuinya.

            Karena, ilmu yang kita miliki, meskipun begitu banyaknya, seperti perkataan Albert Einstein, “Perbandingan ilmu kita dengan kebodohan kita tidak ubahnya seperti setetes air dibandingkan dengan lautan.” Artinya, tidak mungkin seorang manusia mengetahui semua urusan. Oleh karena itu, bisa saja guru memberikan jawaban yang salah kepada murid. Lalu jawaban guru yang salah itu tertanam kokoh dibenak murid. Ini bahaya!

            Sebuah tiori mengatakan, benak seorang anak tidak ubahnya seperti kamera yang merekam gambar-gambar. Waspadalah, janganlah Anda mengatakan suatu perkataan dengan tanpa dasar ilmu didalam masalah-masalah ekonomi misalnya, maupun didalam masalah-masalah yang lainnya terutama masalah aqidah islamiyyah. Jangan sampai membangun pondasi yang salah dalam benak murid (anak didik).  Bisa saja, nantinya, dasar pemikiran atau pemahamam seorang anak didik (murid) menjadi salah diakibatkan penjelasan atau pengajaran seorang guru yang salah atau pemahaman gurunya keliru. Jika hal itu terjadi, siapa yang harus bertanggungjawab? Tidak diragukan, bahwa yang berdosa adalah orang yang melakukan perilaku itu pertama kali, dan orang yang mendiktekan pengetahuan-pengetahuan yang keliru (salah), yang kemudian secara fanatic(taqlid) tertanam kokoh dalam benak dan perilaku seorang murid.

            Penulis mengutif sebuah ungkapan bijak yang mengatakan, “Barang siapa meletakkan suatu kebiasaan yang baik, lalu sepeninggalnya kebiasaan yang baik itu dikerjakan orang, maka baginya (pahala) kebiasaan yang baik itu sama seperti bagi orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun daripada pahala orang yang mengerjakannya. Dan barang siapa meletakkan suatu kebiasaan yang jelek, lalu sepeninggalnya kebiasaan yang jelek itu dikerjakan orang, maka baginya dosa kebiasaan yang jelek itu sama seperti bagi orang yang mengerjakannya, dengan tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa orang yang mengerjakannya.”

            Ilustrasinya; jika seseorang membangun sebuah masjid, maka orang-orang yang mengerjakan shalat di masjid itu akan memperoleh ganjaran illahi, dan sebesar itu pula ganjaran akan dituliskan bagi orang yang mendirikan masjid itu. Dan jika seseorang membanngun tempat kemaksiatan dan kemunkaran(hotel,penginapan,cafĂ©,klub malam,karaoke,bioskop, tempat perjudian, arena sabung ayam,dll), maka akan dituliskan dosa bagi orang-orang yang lalu lalang serta mengunjungi tempat tersebut, dan sebesar itu pula dosa yang diperoleh bagi sipembuat tempat kemaksiatan tersebut. Na’uudzubillah!
            Baarakallaahu lii walakum.***
                                                            (Lili Guntur)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tipu Daya Syetan

      Misi yang di emban syetan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menggoyahkan keimanan seseorang. Godaan-godaan syetan dalam menjerumuskan manusia tersebut bisa berupa dengan cara menyuguhkan segala kesenangan, kenikmatan, kemaksiatan, dan kemunkaran dalam bingkai yang indah menawan. Dengan cara ini manusia diharapkan bisa terseret kedalam “samudra” buatan syetan.             Allah SWT berfiman ; “Sesungguhnya syetan itu hanyalah hendak mengadakan diantaramu permusuhan dan kebencian (lewat) minuman keras dan judi, dan menghalangimu daripada mengingat Allah dan daripada shalat. Oleh sebab itu, belum jugakah kamu mau berpikir?” (QS. Almaidah : 91)             Syetan itu amat pandai menutupi kejahatan dengan kebaikan atau keberuntungan. Sepertihalnya; judi, khamer (minuman keras),dan perjinahan. 1.       Tentang J...

Tentang Khalwat (bertapa)

Jangan sampai salah cara dalam mencari hidayah Allah SWT. Barangkari itulah yang ingin ditegaskan KH.Miftah Fadidl, dalam artikelnya berjudul “Aliran Sesat” (Pikiran Rakyat,edisi 7 Juni 2012) terkait larangan bertapa.             Beliau mengatakan, ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dapat melalui saum, tahajud, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Justru ketika bertapa,kata beliau, syetan akan lebih mudah masuk.             Ma’asyiral muslimin, ketika Nabi SAW dirundung malang, beliau mencari pencerahan batin dengan cara bertapa atau khalwat (menyepi) di Goa Hiro. Hal itu dilakukannya selama kurang lebih empat tahun disela-sela kesibukannya mengurus bisnis perdagangan bersama Siti Khodijah,istrinya, hingga akhirnya beliau mendapatkan wahyu illahi melalui perantaraan malaikat Jibril.Demikian halnya Nabi Musa AS, beliau mendapat sepul...

Ikhlas

Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.             “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya (pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145) Alkisah, sepulang menunaikan ibadah haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah. Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad Jamal berniat segera mengamalka...