Suatu hari Fatimah Binti Rasulullah SAW bersama Hasan,anak lelakinya yang masih kecil, berkunjung ke rumah Siti Muthi’ah. Bukan main bangga dan gembiranya Siti Muthi’ah menerima kedatangan putri Rasulullah SAW meski sedikit ada rasa heran,ada apa gerangan putri Rasulullah SAW datang menemuinya.
Kemudian Fatimah mengutarakan maksud
kedatangannya. Maka Muthi’ah pun berkata,”Sungguh bahagia aku menyambut
kedatangannmu Fatimah. Namun maaf beribu-ribu maaf, aku hanya dapat menerima
kedatanganmu saja. Tadi sebelum berangkat kerja suamiku mengamanahkan agar aku
tidak menerima tamu laki-laki dirumahku.”
Mendengar
perkataan itu Fatimah pun tersenyum,” Wahai Muthi’ah, ini Hasan putraku dan dia
masih kecil.” Muthi’ah menjawab,”Sekali lagi maafkan aku Fatimah, meskipun ia
masih kecil tetapi ia laki-laki. Sungguh aku tidak dapat melanggar amanah
suamiku.”
Mendengar
jawaban Muthi’ah seperti itu,maka Fatimah pun beranggapan betapa mulianya
akhlak wanita bernama Muthi’ah ini. Ia semakin penasaran ingin mengetahui lebih
jauh keutamaan akhlak mulia wanita tersebut. Akhirnya Fatimah pamit untuk
mengantarkan Hasan.
Tak
lama kemudian Fatimah sudah kembali lagi ke rumah Muthi’ah seorang diri yang
langsung disambut oleh Muthi’ah dengan wajah berseri menerima kedatangan
tamunya. Kemudian Muthi’ah bertanya apa sesungguhnya penyebab kedatangannya?
Fatimah pun menjelaskan bahwa ia datang karena disuruh ayahnya,Muhammad
Rasulullah SAW untuk meneladani akhlak
mulia Muthi’ah.
Mendengar jawaban itu bukan main
hati Muthi’ah penuh luapan kebahagiaan karena pujian dari Rasulullah. Namun ia
kembali bertanya dengan keheranan,” Apakah engkau tengah bercanda Fatimah?
Keutamaan akhlak apa yang kumiliki? Aku hanyalah perempuan biasa.” Ujar Muthi’ah.
Sementara itu, tak sengaja pandangan
Fatimah menyapu ke sekeliling ruangan yang sangat sederhana namun bersih.
Terlihat olehnya sebilah rotan ,sebuah kipas,dan sehelai handuk. Iapun segera
bertanya kepada Muthi’ah,” Untuk apa benda-benda itu?”
Wajah Muthi’ah pun seketika merona
merah. “Untuk apa kau tanyakan itu Fatimah, aku jadi malu?”
Namun Fatimah mendesak,”Katakanlah
padaku Muthi’ah, mungkin benda itulah yang membuat ayahku mengabarkan padaku
tentang kemuliaan akhlakmu.”
Muthi’ah lalu bercerita, “Suamiku
setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami, karena itu
aku sangat menyayangi dan menghormatinya. Begitu ia pulang bekerja, aku
menyambutnya dengan sapaan hangat dan muka berseri. Kemudian kuseka keringatnya
dengan handuki ini setelah itu kuhidangkan air minum untuk menyegarkan
kerongkongannya yang kering. Jika pulang kerja, suamiku biasa beristirahat di
sofa dan tanpa di suruh aku kipasi tubuhnya yang penuh keringat dengan kipas
ini sampai hilang penatnya bahkan sampai ketiduran di sofa ini.”
Fatimah masih penasaran,ia
melanjutkan pertanyaannya,”Lalu untuk apa rotan ini?”
Muthi’ah menjawab,”Setelah hilang
penatnya suamiku terbangun dari tidurnya, ketika suamiku bangun aku sudah
mengenakan pakaian rapi yang sangat disukai oleh suamiku. Karena aku tahu
seorang suami akan senang jika pulang ke rumah melihat istrinya berpakaian rapi
berdandan menarik untuk suami sehingga membuatnya semakin betah di rumah.
Setelah itu kuhidangkan makanan. Setelah itu aku bertanya, apakah ada pelayananku
yang kurang berkenan dihatinya? Dan aku serahkan rotan itu untuk memukulku
seandainya pelayannku kurang berkenan dihatinya.”
“Lantas apakah suamimu sering
memukulmu?”Tanya Fatimah.
“Tidak pernah. Ia malah sering
menarik tubuhku kedalam pelukannya dengan penuh kasih sayang. Dengan kedaan
begitu kondisi rumahtangga kami penuh kedamaian,jiwa kami sakinah(tentram).”
Mendengar semua penjelasan tersebut
Fatimah terperangah. Sungguh tak berlebihan kiranya, jika Rasulullah SAW
menyuruh dirinya sowan ke rumah Muthi’ah untuk meneladani akhlaknya yang mulia
itu. Dia adalah sosok istri calon penghuni sorga karena ketaatannya dan
berbakti kepada suami. Rasulullah SAW bersabda,”Wa ‘athaa’at jaojaha tadkhulu min ayyi baabin min abwabil jannah,”(Ta’atlah
kepada suami niscaya akan masuk sorga,dari pintu (sorga) yang mana kau suka)(Alhadits).
Pesona
akhlah Muthi’ah hanya akan bisa dipahami oleh seorang muslimah sejati yang
mengukur segala tindakannya dengan skala iman. Semoga kisah ini memberi insfirasi
dan membangun motivasi agar kita terus berusaha mengadakan revolusi mental
untuk bisa memiliki kepribadian yang pinuji
(akhlakul karim).
Baarakallaahu lii walakum.***
(Lili
Guntur)


Komentar
Posting Komentar