Langsung ke konten utama

Tentang Khalwat (bertapa)




Jangan sampai salah cara dalam mencari hidayah Allah SWT. Barangkari itulah yang ingin ditegaskan KH.Miftah Fadidl, dalam artikelnya berjudul “Aliran Sesat” (Pikiran Rakyat,edisi 7 Juni 2012) terkait larangan bertapa.
            Beliau mengatakan, ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dapat melalui saum, tahajud, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Justru ketika bertapa,kata beliau, syetan akan lebih mudah masuk.

            Ma’asyiral muslimin, ketika Nabi SAW dirundung malang, beliau mencari pencerahan batin dengan cara bertapa atau khalwat (menyepi) di Goa Hiro. Hal itu dilakukannya selama kurang lebih empat tahun disela-sela kesibukannya mengurus bisnis perdagangan bersama Siti Khodijah,istrinya, hingga akhirnya beliau mendapatkan wahyu illahi melalui perantaraan malaikat Jibril.Demikian halnya Nabi Musa AS, beliau mendapat sepuluh perintah suci agama samawi  saat khalwat (bertapa) di bukit Thur.

            Dengan mengacu kepada riwayat- riwayat tersebut, bolehkah kita khalwat (menyepi) atau bertapa sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan Musa AS? Bukan kah Nabi SAW pernah bersabda,”Sesaat seorang ‘alim bersandar (merenung) di tempat tidur untuk memperdalam ilmunya adalah lebih baik daripada ibadah seorang hamba selama enampuluh tahun.”


            Alhasil hemat penulis tidak ada salahnya jika kita membiasakan diri merenung atau bertapa dalam sebuah kesunyian. Boleh jadi dengan melakukan perenungan (kontemplasi) akan melahirkan ketajaman berpikir. Dengan merenung kita bisa bermusyahadah(pengakuan atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan),bisa mengembangkan imajinasi tentang sebuah impian atau cita-cita.Jadi menurut saya bertapa itu diperbolehkan asal tidak melenceng melakukan kemusyrikan yang nyata-nyata dilarang oleh syare’at Islam. Seperti bersemedi sambil menghadap makam yang dikeramatkan(wali atau orang saleh) untuk memohon kepada Allah melalui perantaran keramat wali atau orang saleh tersebut. Kemudian melakukan ritual tawasulan di depan makam keramat untuk mengharap berkahnya. Itulah bentuk-bentuk kemusyrikan. Musyrik adalah perbuatan atau kepercayaan bahkan meyakini  bahwa ada kekuatan lain yang setaraf dengan Allah (seperti bertanya kepada dukun atau paranormal tentang pernasiban lalu membenarkan apa yang dikatakan oleh dukun atau paranormal tersebut, mencari berkah lewat perantaraan kuburan wali atau orang saleh, percaya kepada benda-benda yang diyakini mengandung tuah (khasiat) seperti batu ali,keris,dan benda-benda lainnya). Itulah kemusyrikan!***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tipu Daya Syetan

      Misi yang di emban syetan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menggoyahkan keimanan seseorang. Godaan-godaan syetan dalam menjerumuskan manusia tersebut bisa berupa dengan cara menyuguhkan segala kesenangan, kenikmatan, kemaksiatan, dan kemunkaran dalam bingkai yang indah menawan. Dengan cara ini manusia diharapkan bisa terseret kedalam “samudra” buatan syetan.             Allah SWT berfiman ; “Sesungguhnya syetan itu hanyalah hendak mengadakan diantaramu permusuhan dan kebencian (lewat) minuman keras dan judi, dan menghalangimu daripada mengingat Allah dan daripada shalat. Oleh sebab itu, belum jugakah kamu mau berpikir?” (QS. Almaidah : 91)             Syetan itu amat pandai menutupi kejahatan dengan kebaikan atau keberuntungan. Sepertihalnya; judi, khamer (minuman keras),dan perjinahan. 1.       Tentang J...

Ikhlas

Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.             “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya (pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145) Alkisah, sepulang menunaikan ibadah haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah. Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad Jamal berniat segera mengamalka...