Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.
“Barang
siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia
itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya
(pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur.”(QS. Ali Imran: 145)
Alkisah, sepulang menunaikan ibadah
haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang
gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan
Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian
para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu
pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah.
Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad
Jamal berniat segera mengamalkan ilmunya yang pernah dicarinya di tanah suci.
Lalu ia mendatangi masjid terbesar didaerahnya itu. Masjid jami yang besar dan
indah tapi kelihatan tidak begitu makmur. Jama’ahnya sedikit. Begitu pula
majelis ta’limnya tidak jalan. Bahkan tamir masjidnya pun nyaris tidak
berfungsi. Saat itu dalam perasaan Muhammad Jamal ada rasa malu untuk menawarkan
jasa. Maka ia berpikir, lebih baik orang lain dulu melihat siapa dirinya. Kalau
orang-orang sudah tahu ia seorang ahli ibadah, tak mustahil mereka akan
mengangkat dirinya jadi tamir masjid.
Sejak hari itu, Muhammad Jamal sangat
rajin pergi ke masjid. Datang paling awal dan pulang paling akhir. Bahkan
sekali-sekali sampai nginap di masjid untuk melakukan i’tikaf dan ibadah lail.Namun tawaran yang ditunggu-tunggu
tidak pernah datang juga. Tak terasa setahun sudah Muhammad Jamal beribadah
“demi mengejar kedudukan”. Hingga suatu hari ia merasa bosan dan kesal sampai
putus asa. Ia berujar di dalam hatinya,”Tigaratus enampuluhlima hari aku
beribadah bukan karena Allah. Tigaratus enampuluhlima hari ku buang waktu
percuma, tanpa sedikitpun berserah diri, ikhlas lillaahi ta’ala. Semua
kulakukan semata-mata karena ingin kedudukan. Namun tak seorangpun menghiraukan
aku.” Begitulah yang ada dalam pikiran Muhammad Jamal. Maka sejak saat itu
tiba-tiba terbersit dalam batin dia untuk mencoba beribadah dengan ikhlas (tidak
ditujukan terhadap maksud tertentu, semata-mata hanya mengharap pahala dan
beryukur kepada Allah). Berserah diri sepenuhnya kepada Allah.
Suatu
hari ia sedang shalat dengan khusyu,pasrah kepada Allah. Berharap dan
bergantung hanya kepada Allah (suatu hal yang tidak pernah dilakukannya selama
setahun beribadah di masjid besar itu). Begitu usai salam, Muhammad Jamal
mendengar rebut-ribut diluar. Ternyata para pejabat berseragam aparat pemda
sedang bercakap-cakap bersama tamir
masjid lama seraya memperhatikan kondisi bangunan masjid.
“Masjid
ini perlu di rehab, lihat temboknya sudah retak-retak!” Kata seseorang yang
memakai baju seragam pamong.
“Benar
sekali Pak!” Jawab temannya.
“Kita
butuh seseorang yang dapat dipercaya untuk mengurus rehab ini. Soalnya ini
proyek besar.”
“Oh
ada Pak!”, seorang pengurus masjid menukas. “Sejak setahun yang lalu disini ada
seorang anak muda yang rajin beribadah, namanya Muhammad Jamal. Siang malam ia
terus berada di masjid. Barangkali dia cocok untuk menangani pekerjaan besar
itu,” ujarnya menjelaskan.
Mendengar
perbincangan tersebut, Muhammad Jamal jadi gemetar. Mendadak tubuhnya lemas.
Lalu ia telungkup ke atas sajadah seraya bermunajat,”Ya Allah, setahun penuh
lamanya aku shalat dan beribadah di masjid ini dengan niat agar dipercaya jadi
tamir masjid. Selama itu aku tidak memperoleh apa-apa. Tapi baru saja aku
melaksanakah ibadah semata-mata ikhlas karena Engkau ya Allah seraya mengharap
ridloMu, tiba-tiba orang merencakan hal yang selama ini kuidamkan. Tidak ya
Allah! Aku tidak akan menggadaikan keikhlasan
yang baru tumbuh dengan sesuatu apapun perkara duniawi. Aku memilih
memelihara keikhlasan kepadaMu daripada yang lain-lain.”
Itulah
akhir perjalanan spiritual Muhammad Jamal.
**
Allah
SWT berfirman,”Tidaklah orang-orang itu
diperintah melainkan agar supaya menyembah kepada Allah dengan tulus ikhlas
beragama untuk Tuhan semata.”(QS.Al-Bayyinah : 5)
Ali
ra berkata,”Janganlah kamu prihatin karena sedikitnya amalan, tetapi yang harus
diperhatikan itu ialah apakah amalan itu dapat diterima oleh Allah SWT, sebab
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Mu’az bin Jabal; ikhlaskan lah amalmu dan
sudah mencukupi untukmu amalan yang sedikit (asalkan dilakukan dengan ikhlas).”
(HR. Dailami)
Menurut
Imam Yahya an-Nawawi, ada tiga macam amal kebaikan;
1.
Amal hamba
sahaya, yaitu melaksanakan amal semata-mata karena takut sama Allah.
2.
Amal saudagar,
yaitu melaksanakan amal karena mengharap pahala agar dapat masuk sorga.
3.
Amal orang
merdeka, yaitu melaksanakan amal sebagai bukti atas rasa syukur kepada Allah.
Nabi SAW bersabda:
”Orang
yang paling beruntung nanti yang akan memperoleh syafaat kami pada hari kiamat
adalah orang-orang yang mengucapkan laa
ilaaha illallaah dengan ikhlas dari sanubarinya.”(Alhadits)
“Sesungguhnya
Allah tidak melihat rupa dan kekayaan yang penting hati dan amal perbuatannya.”(Alhadits)
Yakinlah, bahwa Allah SWT akan memberi
pertolongan kepada hambaNya berkat amal yang pernah dia lakukan dengan ikhlas. Baarakallaahu lii walakum.***
(Lili Guntur/Dari berbagai sumber)

Komentar
Posting Komentar