Langsung ke konten utama

T a q w a



“Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam (setiap) urusannya.” 
(Qs. Ath-Thalaq : 4 )

                Kata “taqwa” asal maknanya adalah mengambil tindakan penjagaan dan pemeliharaan diri dari sesuatu yang mengganggu dan memudharatkan. Dalam istilah “syara” (hukum Islam), taqwa berarti menjaga dan memelihara diri dari siksa dan murka Allah dengan jalan melaksanakan perintah-perintahNya, ta’at kepadaNya, menjauhi larangan serta perbuatan maksiat.

            Kalangan ahli tasawuf (sebuah disiplin ilmu yang banyak membahas masalah batiniah atau rohani) berpendapat, taqwa artinya membentengi diri dari siksa Allah dengan jalan ta’at kepadaNya. Sementara para fuqaha (ulama ahli fikih) berpendapat, taqwa berarti menjaga diri dari segala sesuatu yang melibatkan diri kepada dosa.

            Orang yang bertaqwa yaitu orang yang ta’at pada peraturan Allah. Taqwa mengandung arti takut sama Allah dan selalu mengingatNya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat kebahagiaan hidup didunia dan akherat.
           
Allah SWT menjelaskan perihal sifat-sifat orang yang taqwa sebagaimana firmanNya di dalam al-Qur’an yang artinya; “ (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian hartanya yang Kami anugrahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akherat.” (QS. Al-Baqarah: 3-4)

            Para ulama salaf (terdahulu) menjelaskan ihwal arti taqwa, seperti:
1        Abdullah Ibn Abbas ra menegaskan bahwa orang bertaqwa ialah orang yang:
a.       Berhati-hati dalam ucap dan perbuatannya agar tidak mendapat murka dan siksaan Allah, meninggalkan dorongan hawa nafsu.
b.      Mengharapkan rahmatNya dengan meyakini dan melaksanakan ajaran yang diturunkanNya.
2        Abuddarda menyatakan bahwa taqwa seseorang dikatakan sempurna apabila orang tersebut telah menjaga diri dari perbuatan dosa walau sebesar biji sawi, bersedia meninggalkan yang subhat (diragukan kehalalannya) karena takut tergelincir kepada yang haram. Dengan demikian terbentuklah benteng yang kokoh diantara dirinya dengan perkara-perkara yang haram.
Abuddarda juga memperingatkan agar tidak seorang pun meremehkan dan menganggap enteng perbuatan yang baik sekalipun kecil. Demikian juga hendaknya manusia menjauhkan diri dari perbuatan jahat sekalipun tampaknya tidak berarti.

3        Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz yang dianggap sebagai khalifah kelima diantara khulafaur rasidin (sahabat Rasulullah yang empat; Abu Bakar,Umar Ibn Khatthab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib) mengatakan, “Saum pada siang hari dan berjaga(bangun) untuk shalat malam serta berdzikir sepanjang malam atau mengerjakan keduanya (siang malam) belum dapat dikatakan taqwa yang sempurna, taqwallah berarti meninggalkan segala yang diharamkan oleh Allah dan menunaikan segala yang difardhukanNya. Barang siapa yang dikaruniai kemampuan berbuat baik setelah taqwallah, maka kebaikannya itu merupakan tambahan dari kebaikan.

4        Thala bin Hubaid menyatakan, taqwa berarti beramal karena ta’at kepada Allah, patuh pada pimpinan dan bimbinganNya, mengharapkan pahala dari Allah dan meninggalkan perbuatan durhaka atas pimpinan dan bimbinganNya serta takut akan siksaan Allah.

5        Musa bin A’yun mengatakan, orang yang taqwa berarti telah membersihkan diri dari bermacam-macam subhat karena takut jatuh kepada yang haram.

Dari pernyataan para sahabat dan tabi’in tersebut dapatlah disimpulkan beberapa ciri (orang)yang taqwa yaitu:
1.      Menganggap tiada segala sesuatu kecuali Allah SWT
2.      Meninggalkan segala sesuatu kecuali tuntunan Allah SWT
3.      Menghindarkan diri dari segala sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah SWT
4.      Memelihara dan melaksanakan tatacara kehidupan menurut syare’at Islam
5.      Meninggalkan segala hasrat jiwa dan menentang dorongan hawa nafsu
6.      Mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dalam ucapan ataupun perbuatan

Dari ciri-ciri tersebut dapat pula disimpulkan bahwa taqwa berarti menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat menimbulkan atau mendatangkan murka Allah.Wallaahu ‘alam bishshawab.***        
                                                (Lili Guntur)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tipu Daya Syetan

      Misi yang di emban syetan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menggoyahkan keimanan seseorang. Godaan-godaan syetan dalam menjerumuskan manusia tersebut bisa berupa dengan cara menyuguhkan segala kesenangan, kenikmatan, kemaksiatan, dan kemunkaran dalam bingkai yang indah menawan. Dengan cara ini manusia diharapkan bisa terseret kedalam “samudra” buatan syetan.             Allah SWT berfiman ; “Sesungguhnya syetan itu hanyalah hendak mengadakan diantaramu permusuhan dan kebencian (lewat) minuman keras dan judi, dan menghalangimu daripada mengingat Allah dan daripada shalat. Oleh sebab itu, belum jugakah kamu mau berpikir?” (QS. Almaidah : 91)             Syetan itu amat pandai menutupi kejahatan dengan kebaikan atau keberuntungan. Sepertihalnya; judi, khamer (minuman keras),dan perjinahan. 1.       Tentang J...

Tentang Khalwat (bertapa)

Jangan sampai salah cara dalam mencari hidayah Allah SWT. Barangkari itulah yang ingin ditegaskan KH.Miftah Fadidl, dalam artikelnya berjudul “Aliran Sesat” (Pikiran Rakyat,edisi 7 Juni 2012) terkait larangan bertapa.             Beliau mengatakan, ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dapat melalui saum, tahajud, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Justru ketika bertapa,kata beliau, syetan akan lebih mudah masuk.             Ma’asyiral muslimin, ketika Nabi SAW dirundung malang, beliau mencari pencerahan batin dengan cara bertapa atau khalwat (menyepi) di Goa Hiro. Hal itu dilakukannya selama kurang lebih empat tahun disela-sela kesibukannya mengurus bisnis perdagangan bersama Siti Khodijah,istrinya, hingga akhirnya beliau mendapatkan wahyu illahi melalui perantaraan malaikat Jibril.Demikian halnya Nabi Musa AS, beliau mendapat sepul...

Ikhlas

Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.             “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya (pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145) Alkisah, sepulang menunaikan ibadah haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah. Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad Jamal berniat segera mengamalka...