Langsung ke konten utama

Dzalim

Dikisahkan (seperti tertulis dalam kitab Irsyadul ‘Ibad) , bahwa pada zaman dahulu ada seorang dari kalangan Bani Israil, ketika ia sedang berada di sisi laut tiba-tiba melihat seseorang berseru dengan suara lantang. “Wahai kawan, ingat lah! Jangan lah coba-coba berbuat dzalim atau aniaya kepada siapapun!” Seseorang bertanya,” Wahai hamba Allah apa alasannya anda bicara begitu?” Maka dijawab,”Ketahuilah bahwa saya ini dulu seorang perwira polisi. Pada suatu hari ketika saya berada di sisi laut melihat seorang pengail membawa ikan. Maka saya memintanya, tetapi dia tidak memberikan. Kemudia saya akan membelinya, juga dia menolak, maka saya pukul saja kepalanya, lalu saya ambil ikannya dengan cara paksa. Kemudian ikan itu saya bawa pulang.
            Ketika ikan itu akan di cuci untuk di masak, tiba-tiba ikan itu menggigit ibu jari saya. Saya berusaha melepaskannya, tetapi sia-sia. Lalu dibantu oleh keluarga saya, yang akhirnya dengan susah payah jari saya terlepas dari gigitan ikan itu. Namun jari tangan saya membengkak dan tampak ada gigitan ikan itu. Saya berobat ke dokter, ketika diperiksa, dokter mengatakan bahwa gigitan ikan itu mengandung virus yang bisa mematikan. Satu-satunya jalan kalau ingin sembuh ibu jari tangan itu harus diamputasi(dipotong).
            Akhirnya saya menuruti anjuran dokter itu. Tapi beberapa hari kemudian sakitnya itu terus menjalar hingga ke telapak tangan. Dan saya kembali pergi ke dokter untuk mengobatinya. Dokter menyarankan kembali, kalau penyakit itu ingin sembuh tiada jalan lain harus dilakukan amputasi lagi hingga ke telapak tangan. Saya pun menuruti saran dokter. Namun beberapa hari kemudian sakitnya itu kembali menjalar hingga kepergelangan bahkan sampai ke siku, sehingga saya tidak bisa tidur. Atas saran dokter akhirnya tangan saya diamputasi lagi hingga ke batas bahu. Suatu hari ada seseorang bertanya, ‘Apa penyebab penyakitmu itu?’ Kemudian saya menceritakan perihal ikan yang saya rampas dari si pengail itu. Orang itu berkata,’Andai saja sejak pertama anda segera pergi untuk minta maaf kepada si pengail itu, saya yakin kejadiannya tidak akan seperti ini.’”
Demikian sepenggal kisah tentang contoh perbuatan dzolim(aniaya). Semoga kisah ini jadi ‘itibar (pelajaran) agar kita senantiasa bisa menjaga sikap jangan sampai berbuat kedzoliman yang dapat merugikan orang lain, apapun bentuk kedzoliman itu.
 Kalangan hukama (ahli filsafat Islam) membagi kedhaliman  menjadi tiga bagian:
1.      Kedhaliman manusia terhadap Allah SWT
Kedhaliman yang terbesar dari jenis ini adalah kufur (mengingkari Allah), syirik (menyekutukan atau membuat tandingan Allah),dan nifak (munafik = mengaku beriman dengan lidahnya akan tetapi hatinya menolak).
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya menyekutukan Allah itu termasuk kedhaliman yang besar.” (QS.Lukman : 13)
2.      Kedhaliman manusia terhadap manusia
Yaitu berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain rugi atau menderita karena akibat perbuatannya,seperti melanggar janji,berbuat keonaran, menyakiti, tidak berperasaan, dll.
Allah SWT berfirman: “Balasan terhadap yang jahat setimpal dengan kejahatannya…”, (QS.Asy-Syura:40)
3.      Kedhaliman terhadap diri sendiri
Yaitu berbuat maksiat dan kedurhakaan (berzina,minum minuman keras, melanggar larangan Allah,mengurangi atau merubah ketentuann yang ditetapkan Allah dan RasulNya, dsb. Allah SWT berfirman:“Ada sebagian dari mereka yang berlaku aniaya terhadap dirinya sendiri “,(QS.Fathir:32)
Tiga macam kedhaliman itu, pada hakekatnya bertitik tolak pada satu, yaitu kedhaliman terhadap diri sendiri. Orang yang melakukan kedhaliman terhadap orang lain berarti telah mendhalimi dirinya sendiri. Si pendhalim itulah yang pertama kali akan menderita akibat perbuatan dhalimnya, sedang orang lain hanya sebagai akibat skunder dari perbuatan dhalim orang itu. Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa yang melakukan demikian sesungguhnya ia telah menganiaya dirinya sendiri”,(Qs. Al-Baqarah : 231)
Baarakallaahu lii walakum.***
                                                (Lili Guntur)
Rujukan:
-          Ali Usman K.H.M, Dahlan H.A.A, Dahlan, Prof. DR. H.M.D.,(Hadits Qudsi,Pola Pembinaan Akhlak Muslim, CV.Diponegoro,Bandung,1993)

-          Irsyadul ‘Ibad Ilasabilirrasyad(Petunjuk Kejalan Lurus, Darussaggaf,Surabaya,?)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tipu Daya Syetan

      Misi yang di emban syetan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menggoyahkan keimanan seseorang. Godaan-godaan syetan dalam menjerumuskan manusia tersebut bisa berupa dengan cara menyuguhkan segala kesenangan, kenikmatan, kemaksiatan, dan kemunkaran dalam bingkai yang indah menawan. Dengan cara ini manusia diharapkan bisa terseret kedalam “samudra” buatan syetan.             Allah SWT berfiman ; “Sesungguhnya syetan itu hanyalah hendak mengadakan diantaramu permusuhan dan kebencian (lewat) minuman keras dan judi, dan menghalangimu daripada mengingat Allah dan daripada shalat. Oleh sebab itu, belum jugakah kamu mau berpikir?” (QS. Almaidah : 91)             Syetan itu amat pandai menutupi kejahatan dengan kebaikan atau keberuntungan. Sepertihalnya; judi, khamer (minuman keras),dan perjinahan. 1.       Tentang J...

Tentang Khalwat (bertapa)

Jangan sampai salah cara dalam mencari hidayah Allah SWT. Barangkari itulah yang ingin ditegaskan KH.Miftah Fadidl, dalam artikelnya berjudul “Aliran Sesat” (Pikiran Rakyat,edisi 7 Juni 2012) terkait larangan bertapa.             Beliau mengatakan, ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dapat melalui saum, tahajud, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Justru ketika bertapa,kata beliau, syetan akan lebih mudah masuk.             Ma’asyiral muslimin, ketika Nabi SAW dirundung malang, beliau mencari pencerahan batin dengan cara bertapa atau khalwat (menyepi) di Goa Hiro. Hal itu dilakukannya selama kurang lebih empat tahun disela-sela kesibukannya mengurus bisnis perdagangan bersama Siti Khodijah,istrinya, hingga akhirnya beliau mendapatkan wahyu illahi melalui perantaraan malaikat Jibril.Demikian halnya Nabi Musa AS, beliau mendapat sepul...

Ikhlas

Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.             “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya (pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145) Alkisah, sepulang menunaikan ibadah haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah. Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad Jamal berniat segera mengamalka...