Tertulis dalam ki
tab Durratun Nashihin, dikisahkan bahwa di sudut Kota Madinah, terjadi sebuah percakapan antara Sulaeman bin Abdul Malik, seorang penguasa di zaman Bani Umayah, dengan Abu Hazim. Kedua orang tersebut bercakap-cakap tentang kematian.
“Ya
Abu Hazim, apa sebabnya saya ini merasa takut akan datangnya kematian?” Kata
Sulaeman bin Abdul Malik.
“Karena
anda merusak akherat dan hanya membangun dunia. Itulah yang menyebabkan anda
takut mati. Enggan meninggalkan alam dunia yang sudah begitu indahnya anda
bangun, untuk pindah ke tempat yang baru yang masih dalam keadaan rusak,” jawab
Abu Hazim.
“Tolong
jelaskan, bagaimana keadaan orang yang pergi menghadap Allah itu ya Abu Hazim?”
“Jika
orang itu shaleh, perginya menghadap Allah bagaikan musafir yang kembali
kekeluarganya. Jika orang itu berdosa, ibarat seorang babu yang kabur dari
majikannya dan dipaksa agar pulang kembali menemui tuannya.”
Ditegaskan, tatkala
malaikat malakal maut Izrail hendak mencabut roh manusia, pertama kali ia
mendatanginya lewat mulut si mu’in. Namun tiba-tiba tidak jadi, kenapa? Karena
mulut si mu’min selalu digunakan untuk berdzikir kepada Allah. Kemudian Izrail
mencari jalan lain lewat tangannya, demikian juga, lewat tangannya tidak ada
jalan untuk mencabut roh si mu’min, karena tangan itu suka digunakan untuk
bershodaqoh, mengusap kepala anak yatim, menuilis ilmu agama, maka Izrail
mencari jalan lain lewat kaki, namun sama halnya, lewat kaki tidak ada jalan,
karena kaki si mu’min sering digunakan untuk berjalan melaksanakan shalat
berjamaah di masjid, digunakan berjalan mendatangi majelis dzikir dan
pengajian-pengajian. Lalu Izrail mencari jalan lewat telinganya, begitu juga
tidak ada jalan, karena telinga si mu’min suka digunakan untuk mendengarkan
bacaan Al-Qur’an dan dzikir. Kemudian Izrail mencari jalan lewat mata, sama
halnya, tidak ada jalan, karena mata si mu’min suka dipergunakan untuk menelaah
mushaf-mushaf dan membaca Al-Kitab. Maka akhirnya Izrail melaporkan kejadian
itu kepada Allah SWT,”Ya Allah, sungguh
tidak sanggup saya mencabut roh si mu’min itu dari jasadnya karena tidak ada
jalan.” Allah SWT berfirman : “Tulis
lah asmaKu ditelapak tanganmu, lalu perlihatkan lah kepada rohnya orang beriman
itu!”
Dengan
menyebut asma Allah, ketika si mu’min itu dicabut rohnya dari jasadnya oleh
malaikat Izrail,sungguh ia tidak merasakan sakit. “Ruh orang beriman ketika
keluar dari jasadnya bagaikan rambut di cabut dari tepung,” demikian kata Nabi
SAW.
Dalam riwayat lain dikisahkan, suatu hari Izrail
mendekati Nabi Musa AS, lalu Musa AS bertanya,”Apakah engkau dating untuk
mengunjungiku atau untuk mencabut nyawaku?”
Izrail
menjawab,”Aku dating untuk mengambil nyawamu.”
Musa
kembali bertanya,”Bisakah engkau beri kesempatan padaku untuk melakukan
perpisahan dengan anak-anakku?” Izrail menjawab,”Tidak ada kesempatan untuk
itu.”
Lalu
Musa AS bersujud kepada Allah memohon agar Allah memerintahkan Izrail
memberikan kesempatan kepadanya untuk menyampaikan kata-kata dengan
anak-anaknya. Allah SWT berfirman: “Wahai Izrail, berikan kesempatan pada
Musa!”
Setelah
diberinya kesempatan, lalu Musa AS mendatangi ibunya seraya berkata:” Wahai
ibu,sebentar lagi saya akan melakukan safar.” Lalu ibunya bertanya,”Wahai
anakku,apakah safar itu?” Musa menjawab,”Perjalanan ke akherat.”
Tiba-tiba
ibunya menangis.
Lalu
Musa AS mendatangi istrinya untuk menyampaikan salam perpisahan. Anak-anaknya
mendekat kepangkuan Musa AS dan menangis. Musa AS sungguh terharu, ia pun
menangis. Allah bertanya kepada Musa AS,”Hai Musa, kamu akan dating menemuiku,
untuk apa tangisan dan rintihan itu?” Musa menjawab.”Hatiku mencemaskan
anak-anakku.” Allah kemudian berfirman,”Wahai Musa, relakan hatimu untuk
meninggalkan mereka, biarkan Aku yang menjaga mereka. Biarkan Aku mengurus
mereka dengan kecintaanKu.”
Barulah
hati Musa AS tenang. Lalu Musa AS bertanya kepada Izrail,”Silahkan dari arah
mana engkau akan mencabut nyawaku?” Izrail menjawab,”Dari mulutmu wahai Musa.”
Musa berkata,”Apakah engkau rela akan mencabut rohku lewat mulutku yang biasa
berdzikir bermunajat kepada Allah?” Izrail menjawab,”Kalau begitu lewat
tanganmu saja.” Musa kembali bertanya,”Apakah engkau mau mengambil nyawaku
lewat tangan yang pernah dipakai untuk membawa lembaran-lembaran Taurot?”
Izrail menjawab,”Kalau begitu aku akan mencabut rohmu lewat kakimu.” Musa
bertanya lagi,”Apakah engkau mau mengambil nyawa dari kakiku yang pernah
berjalan ke bukit Thur untuk bermunajat kepada Allah?” Namun kemudian Izrail
memberikan jeruk yang harum untuk dihirup Musa As, seketika itu Musa AS
menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Para
malaikat bertanya kepada Musa AS,”Ya
ahwanal anbiya kaifa wajadtalmaut?(Wahai Nabi yang paling ringan matinya,
bagaimana rasanya kematian itu)?” Musa berkata,”Kasy syatin tuslakhu wahiya hayyatan(Seperti kambing yang dikuliti
hidup-hidup).”
Lebih dari ribuan tahun yang lalu, ditengah-tengah
syahara, pada hari asyura, Imam Husain AS berkata kepada sahabat-sahabatnya,
“Kematian adalah jembatan penyebrangan dari keburukan dan kesengsaraan ke surge
yang luas, kenikmatan abadi. Maka siapakah diantara kalian yang tidak mau
berpindah dari penjara ke istana?(Itulah kematian bagi orang yang beriman).
Sedangkan bagi orang yang tidak beriman (kafir), kematian adalah perpindahan
dari istana ke penjara,dan azab. Kata Imam Husain AS, sesungguhnya ayahku
berkata, dari Rasulullah SAW bahwa dunia itu penjara bagi orang mu’min dan
surga bagi orang-orang kafir.”
Sebagian ulama mengatakan bahwa kematian adalah
misteri. Hanya Allah SWT yang tahu kapan seseorang itu akan mati, apakah ia di
ambil sewaktu masih bayi,muda, dewasa, ataukah dalam usia lanjut? Kematian
merupakan jembatan perantara dari kehidupan dunia menuju kehidupan akherat.
Kematian
pasti dating kepada siapapun. Tak mengenl jenis kelamin,kecantikan rupa, juga
kekayaan. Jika Allah sudah menghendaki, orang tak akan bisa berkelit lagi.
Kenyataannya, banyak orang takut menghadapi kematian. Penyebabnya bukan karena
takut menghadapi Allah, tapi karena kurangnya perbekalan yang hendak dibawa.
Lain lagi kalau seseorang sudah merasa mempunyai bekal yang cukup untuk bertemu
Allah, ia akan merasa gembira dan menunggu-nunggu kedatangannya. Subhanallah!***
(lili Guntur)

Komentar
Posting Komentar