Abdul Kadir tahu, kalau perjalanan ke Bagdad itu harus ditempuh sehari semalam. Kalau ia berangkat pagi itu juga, menjelang dini hari baru tiba kembali dirumahnya. Ibunya sakit keras dan harus mendapat obat dengan segera. Satu-satunya yang dapat menolong hanya pamannya,seorang tabib. Baginya, apapun yang akan terjadi, keselamatan ibunya jauh lebih penting dibandingkan dengan persoalan lainnya. Adik Abdul Kadir berjumlah lima orang. Dia paling besar. Sementara kelima adiknya tadi masih kecil-kecil. Sedangkan ayahnya sudah lama meninggal.
Mengetahui
Abdul Kadir akan pergi menemui pamannya, semula ibunya keberatan. Tetapi Abdul
Kadir tetap bersikeras. Akhirnya dengan terharu sang ibu mengijinkan kepergian
putranya itu seraya mendo’akan agar Allah senantiasa melindunginya.
Perjalanan
ke Bagdad untuk meminta obat kepada pamannya itu tidak menemui banyak
kesulitan. Justru perjalanan pulanglah yang jauh lebih berat karena harus
melalui malam yang gelap gulita. Diperjalanan ia kecapaian, dan duduk
beristirahat di tepi hutan. Tanpa sengaja mata Abdul Kadir tiba-tiba terpejam.
Ia ketiduran saking capenya menempuh perjalanan.
Tiba-tiba
seekor ular berbisa mendesis dari semak-semak. Begitu mencium bau yang ganjil
ular itu mengangkat kepalanya yang serta merta berubah menjadi pipih, hendak
mematuk Abdul Kadir. Namun ajaib, sungguh suatu keajaiban! Sebatang ranting
kering yang cukup besar tiba-tiba terpatah dari pohonnya persis menimpa kepala
ular itu sampai akhirnya tewas. Sementara Abdul Kadir tetap terlelap seakan tak
tahu apa yang telah terjadi. Malah ketika terjaga, ia langsung bangkit dan
bergegas pulang pengen cepet-cepet tiba di rumah, tanpa menyadari bangkai ular
tergeletak disampingnya.
Nah,
saudaraku, sesungguhnya siapa yang membunuh ular itu? Apakah ranting yang patah
tadi? Konon menurut Imam Syibaweh dalam kitab Irsyadul ‘Ibad, ular berbisa itu dibunuh
oleh pedang malam kepunyaan ibunya. (Yang dimaksud pedang malam disini adalah
do’a). “Itulah kuasa do’a.” Tandas Imam Syibaweh.
Do’a
adalah sebab dan paktor yang paling kuat guna menolak segala sesuatu yang tidak
diinginkan dan paktor penunjang tercapainya segala tujuan atau cita-cita. Akan
tetapi kadang-kadang do’a itu tidak ada bekasnya atau tidak ada hasilnya.
Mungkin karena lemahnya do’a orang yang berdo’a, sehingga do’anya sulit
dikabulkan oleh Allah SWT oleh sebab terhijab oleh adanya perbuatan-perbuatan
yang memusuhi Allah.
Atau
mungkin karena lemahnya atau lalainya jiwa orang yang berdo’a dan kurangnya
konsentrasi menghadapkan do’anya kepada Allah SWT, mungkin juga akibat adanya
penghalang untuk dikabulkannya sebab terbiasa makan makanan yang haram, atau
karena perbuatan aniaya dan atau sebab kotoran dosa yang menyelubungi hati,
serta dia selalu dikuasai oleh kelengahan, kealfaan, dan hawa nafsu. Kata Nabi
SAW, “Ketahuilah olehmu bahwa
sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan do’anya orang-orang yang hatinya
lalai.”
Baarakallaahu lii walakum.***
(Lili
Guntur)

Komentar
Posting Komentar