Langsung ke konten utama

Kiat Meraih Bahagia


Kalau Anda ingin bahagia, diberi nikmat yang banyak? Kuncinya adalah bersyukur! Allah SWT berfirman dalam al-Qur’anulkarim; “lain syakartum la ajiidannakum. (Jika kamu sekalian bersyukur, maka Kami (Allah) akan memberikan nikmat yang lebih banyak kepadamu).” 
(QS.Ibrahim : 7)
  
Hakekat syukur adalah memuji (orang) yang memberikan kebaikan dengan mengingat kebaikannya. Syukurnya hamba kepada Allah SWT adalah memuji kepadaNya dengan mengingat kebaikanNya, sedangkan syukurnya Allah SWT kepada hamba berarti Allah memuji kepadanya dengan mengingat kebaikannya. Perbuatan baik hamba adalah taat kepada Allah, sedangkan perbuatan baik Allah adalah memberikan kenikmatan dan pertolongan. Hakekat syukur bagi hamba adalah ucapan lisan dan pengakuan hati terhadap kenikmatan yang telah diberikan Allah.
Ibn Qudamah, penulis kitab Ar-Risalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf, membagi syukur dalam tiga bagian. Pertama,syukur dengan lisan, yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sikap merendahkan diri. Kedua,syukur dengan badan, yakni bersikap selalu taat (mengabdi) kepada Allah SWT. Ketiga, syukur dengan hati, yakni senantiasa selalu mengagungkanNya.
Dijelaskan,bahwa syukur dengan lisan adalah syukurnya orang yang berilmu. Ini dapat direalisasikan dalam bentuk perbuatan. Syukur dengan hati adalah syukurnya orang yang ahli ma’rifat (mengenal Allah dengan mata batin). Ini dapat direalisasikan dengan semua hal ihwal secara konsisten.

Kalangan ulama mengatakan, syukur mengandung arti menggunakan pemberian Allah dengan sebaik-baiknya. Kita(manusia) dikaruniai tubuh yang sempurna dengan anggota badan yang lengkap (mata,telinga, hidung,mulut,tangan,kaki, dan yang lainnya). Maka kita patut mensyukurinya. Menurut satu pendapat, yang dimaksud syukurnya kedua mata adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita lihat, sedangkan yang dimaksud syukurnya kedua telinga adalah menutupi cacatnya teman yang pernah kita dengar.

Sudah menjadi sunnatullah didalam kehidupannya manusia akan diuji dengan ujian yang baik dan ujian yang buruk. Allah SWT berfirman; “Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan,” (QS. Al-Anbiya : 35)
Ujian yang buruk, ada yang ringan ada pula yang berat,seperti: tertusuk duri, susah tidur, galau/gelisah, kehilangan,kecurian,kematian, percekcokan,dukacita, kesulitan hidup,dsb. Betapa banyaknya nikmat yang diberikan Allah sebagaimana juga banyaknya cobaan dan ujian Allah yang buruk.
Dengan adanya cobaan Allah yang buruk dan yang baik (yang tidak menyenangkan dan yang menyenangkan) akan memperlihatkan bagaimana perilaku seorang mukmin (orang yang mengaku beriman) yang diuji itu, apakah dalam menghadapi ujian tersebut dihadapinya sesuai dengan tuntunan Allah atau bertentangan?

Seorang mukmin manakala menghadapi ibtila atau ujian Allah yang buruk, seraya ia senantiasa ia mengucapkan kalimah istirja; inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun (Semua dari Allah dan kembali kepadaNya). Iapun akan tetap bersyukur yang dimanifestasikan dalam  bentuk ; tahan menderita, tabah, sabar, berusaha mencari jalan keluar, tawakal berserah diri. Iapun senantiasa berdo’a dengan do’a karab (do’a kemalangan), adalah do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi Yunus as tatkala berada didalam perut ikan hiu yang menelannya, do’a tersebut adalah sbb: “laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadz dzaalimiin”(Tiada Tuhan melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya hamba ini termasuk golongan orang yang menganiyaya diri sendiri).”(HR. Hakim)
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur (abdan syakuura). Baarakallaahu lii walakum.***
                                    (Lili Guntur)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tipu Daya Syetan

      Misi yang di emban syetan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menggoyahkan keimanan seseorang. Godaan-godaan syetan dalam menjerumuskan manusia tersebut bisa berupa dengan cara menyuguhkan segala kesenangan, kenikmatan, kemaksiatan, dan kemunkaran dalam bingkai yang indah menawan. Dengan cara ini manusia diharapkan bisa terseret kedalam “samudra” buatan syetan.             Allah SWT berfiman ; “Sesungguhnya syetan itu hanyalah hendak mengadakan diantaramu permusuhan dan kebencian (lewat) minuman keras dan judi, dan menghalangimu daripada mengingat Allah dan daripada shalat. Oleh sebab itu, belum jugakah kamu mau berpikir?” (QS. Almaidah : 91)             Syetan itu amat pandai menutupi kejahatan dengan kebaikan atau keberuntungan. Sepertihalnya; judi, khamer (minuman keras),dan perjinahan. 1.       Tentang J...

Tentang Khalwat (bertapa)

Jangan sampai salah cara dalam mencari hidayah Allah SWT. Barangkari itulah yang ingin ditegaskan KH.Miftah Fadidl, dalam artikelnya berjudul “Aliran Sesat” (Pikiran Rakyat,edisi 7 Juni 2012) terkait larangan bertapa.             Beliau mengatakan, ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dapat melalui saum, tahajud, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Justru ketika bertapa,kata beliau, syetan akan lebih mudah masuk.             Ma’asyiral muslimin, ketika Nabi SAW dirundung malang, beliau mencari pencerahan batin dengan cara bertapa atau khalwat (menyepi) di Goa Hiro. Hal itu dilakukannya selama kurang lebih empat tahun disela-sela kesibukannya mengurus bisnis perdagangan bersama Siti Khodijah,istrinya, hingga akhirnya beliau mendapatkan wahyu illahi melalui perantaraan malaikat Jibril.Demikian halnya Nabi Musa AS, beliau mendapat sepul...

Ikhlas

Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.             “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya (pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145) Alkisah, sepulang menunaikan ibadah haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah. Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad Jamal berniat segera mengamalka...