Langsung ke konten utama

Istri Shalehah

Seorang istri, jika ingin hidup bahagia didunia  dan ketika meninggal dunia masuk sorga, kuncinya adalah mau berbakti dan ta’at kepada suami. Nabi SAW bersabda; “Wa ‘athaa’at jaojaha tadhulu min ayyi baabin min abwabil jannah”(Dan ta’atlah kepada suami maka akan masuk sorga,dari pintu mana ia suka).(Alhadits)

Beberapa hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan predikat istri shalehah, ciri-cirinya antara lain:
1.     Sesuai dengan anjuran Islam bahwa wanita yang shalehah itu rido meringankan calon suaminya dalam membayar mahar kepadanya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW; “Wanita yang paling baik adalah wanita yang maharnya paling sedikit.” (HR.at-Thabrani)
2.     Seorang istri shalehah selain cantik hatinya juga secara jasmani ia menyejukan mata saat dipandang. Melayani suami dengan penuh kelembutan sehingga suami akan merasa damai saat berada di rumah. Menyambut kedatangan suami dengan senyum hangat, ucapan yang manis, ikut menemani makan dan setia mendengarkan ceritanya, kemudian mempersiapkan perlengkapan mandi adalah aktifitas yang bisa dilakukan istri untuk menyenangkan suami. Semua itu dilakukan dengan penuh keikhlasan bukan karena “uang”. Nabi SAW bersabda; “Sebaik-baiknya istri yaitu yang menyenangkanmu ketika kamu pandang, taat kepadamu ketika kamu suruh,(serta) pandai menjaga dirinya dan hartamu ketika kamu pergi.”
3.     Sangat sedikit istri yang mau berterima kasih kepada suami, mereka menganggap apa yang telah diberikan dan dilakukan oleh suami adalah kewajibannya, atau sudah seharusnya. Sehingga menganggapnya sebagai hal yang biasa.
Sikap dan pernyataan terima kasih bisa disampaikan secara lisan, tetapi akan lebih berarti jika diwujudkan dalam bentuk sikap dan perbuatan. Sikap istri yang tahu terima kasih akan selalu menggembirakan hati suami. Senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan dan tidak menuntut suami untuk memberikan lebih dari kemampuannya.Nabi SAW bersabda: “Allah (sangat membenci)  tidak akan mempedulikan seorang istri yang tidak tahu berterimakasih atas penghasilan suaminya.” (HR.An-Nasa’i)
4.     Merawat suami saat sakit merupakan tanggungjawab istri. Pengabdian istri kepada suami belum terukur sebelum ia membuktikan kesetiaan, kesabaran, dan keteguhannya dalam merawat suami yang sakit. Istri yang merawat suami dalam keadaan sakit sama halnya dengan jihad yang balasannya adalah surga, jika dilakukan dengan ikhlas( hanya mengharap pahala dari Allah SWT).
5.     Memberikan dorongan kepada suami dalam kehidupan beragama seperti yang dilakukan istri Imran as (QS.Ali Imran : 35). Istri Imran ini merupakan teladan bagi para istri dalam mendampingi suami menegakkan agama Allah. Akhlak suami yang teguh pada agama harus didukung, diberi semangat, agar selalu diridoi Allah SWT. Bila suami grafik keimanannya menurun, maka istri membangunkan suami untuk shalat lael, mengajaknya tadarus al-Qur’an atau sekedar mengingatkan shalat jama’ah di masjid.
6.     Tidak menceritakan kekurangan suami kepada keluarga dan orang lain,termasuk  dalam urusan ekonomi,sekecil apapun penghasilan suami harus disyukuri karena itu bagian pemberian dari Allah. Buat apa penghasilan besar tapi cara mendapatkannnya dengan jalan tidak halal. Atau mencela, membenci, menjelek-jelekkan suami karena suami poligami(misalnya).Jika demikian halnya, keluarga,kerabat,bisa ikut membenci atau mencela pula. Istri hendaknya menjaga hal itu agar tidak mencoreng muka suami. Gara-gara suami poligami, lalu istri mengadu kepada orangtua,akhirnya mertua jadi benci dan mencela suami. Padahal urusan poligami adalah urusan pribadi,sesuatu hal yang tidak dilarang oleh agama.Dan inilah ujian terberat bagi seorang istri shalehah, karena seseorang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasulnya, harus siap menerima ibtila atau ujian. Apakah dia rela menerima atau malah ngarasula (bahasa Sunda= menggerutu,menyalahkan takdir).
7.     Istri shalehah,tidak pergi meninggalkan suami dalam kondisi dan keadaan bagaimanapun. Nabi SAW bersabda; “Dan tidak boleh keluar dari rumah  kecuali dengan ijin suami, maka jika melanggar dikutuk oleh Allah dan malaikat(meski suami seorang yang dlolim),hingga ia kembali bertobat.” (HR.Atthayalisi)
8.     Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya seorang istri belum dikatakan beriman kepada Allah sebelum ia melaksanakan kewajibannya berbakti terhadap suami…”(HR.Atthabrani).
9.     Rasulullah SAW bersabda; “Hak suami lebih besar daripada hak istri, sehingga andaikan mengalir dari hidung suami darah atau nanah lalu dijilati oleh istrinya, belum juga terbayar hak suami itu, dan andaikan manusia dibolehkan sujud terhadap manusia niscaya saya perintahkan(kata Nabi) istri untuk sujud kepada suaminya.”(HR. Al-Hakim)

 Semoga kaum wanita yang kebetulan sempat membaca dan mengkaji artikel ini mendapat pencerahan, taofik dan hidayah dari Allah SWT,diberi kelembutan hati untuk kembali ke jalan lurus, paham terhadap kebenaran dari Allah,dijauhkan dari sifat  nusyuz (selalu membangkan terhadap nasehat) , dan  hubbuddunya (cenderung harta yang dicari) sampai harus meninggalkan anak dan suami karena  ikut berperan mencari nafkah. Janganlah terus-terusan terlena dengan kehidupan dunia yang hanya sebuah kesenangan sementara dan menipu,sedangkan kehidupan akherat lebih panjang dan kekal.  
Baarakallaahu lii walakum.***
(Lili Guntur)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tipu Daya Syetan

      Misi yang di emban syetan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menggoyahkan keimanan seseorang. Godaan-godaan syetan dalam menjerumuskan manusia tersebut bisa berupa dengan cara menyuguhkan segala kesenangan, kenikmatan, kemaksiatan, dan kemunkaran dalam bingkai yang indah menawan. Dengan cara ini manusia diharapkan bisa terseret kedalam “samudra” buatan syetan.             Allah SWT berfiman ; “Sesungguhnya syetan itu hanyalah hendak mengadakan diantaramu permusuhan dan kebencian (lewat) minuman keras dan judi, dan menghalangimu daripada mengingat Allah dan daripada shalat. Oleh sebab itu, belum jugakah kamu mau berpikir?” (QS. Almaidah : 91)             Syetan itu amat pandai menutupi kejahatan dengan kebaikan atau keberuntungan. Sepertihalnya; judi, khamer (minuman keras),dan perjinahan. 1.       Tentang J...

Tentang Khalwat (bertapa)

Jangan sampai salah cara dalam mencari hidayah Allah SWT. Barangkari itulah yang ingin ditegaskan KH.Miftah Fadidl, dalam artikelnya berjudul “Aliran Sesat” (Pikiran Rakyat,edisi 7 Juni 2012) terkait larangan bertapa.             Beliau mengatakan, ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dapat melalui saum, tahajud, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Justru ketika bertapa,kata beliau, syetan akan lebih mudah masuk.             Ma’asyiral muslimin, ketika Nabi SAW dirundung malang, beliau mencari pencerahan batin dengan cara bertapa atau khalwat (menyepi) di Goa Hiro. Hal itu dilakukannya selama kurang lebih empat tahun disela-sela kesibukannya mengurus bisnis perdagangan bersama Siti Khodijah,istrinya, hingga akhirnya beliau mendapatkan wahyu illahi melalui perantaraan malaikat Jibril.Demikian halnya Nabi Musa AS, beliau mendapat sepul...

Ikhlas

Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.             “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya (pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145) Alkisah, sepulang menunaikan ibadah haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah. Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad Jamal berniat segera mengamalka...