Di masa Rasulullah SAW ada
seorang pria yang berdagang dari Syam ke
Kota Madinah dan sebaliknya. (Dalam berdagangnya) pria itu tidak bergabung
dengan kafilah manapun. Dia lebih senang memasrahkan dirinya (serta dagangannya)
kepada Allah. Ketika ia berangkat dari Syam menuju Madinah tiba – tiba ia
dihadang penyamun yang serta merta menghunus pedangnya dari atas punggung kuda.
“Berhenti!
Berhenti…!” Sergahnya.
Si
pedagang itu lalu berhenti. Dia menatap sang penyamun itu sejenak lalu berkata,”Ambilah
hartaku!, dan biarkan saya melanjutkan perjalanan!”
“Harta
itu telah menjadi milikku! Tapi aku juga menginginkan nyawamu!” Bentak si
penyamun.
“Apa
yang kamu harapkan dari diriku? Sedangkan kamu telah mendapatkan hartaku.
Tolong,biarkan saya melanjutkan perjalanan.”
“Tidak!
Aku ingin membunuhmu.”
“Baiklah
kalau begitu. Tapi berilah saya kesempatan untuk berwudlu dan shalat serta
berdo’a kepada Tuhanku Yang Maha Mulia dan Maha Agung.”
“Lakukan
apa yang kamu inginkan.”
Pedagang
itu beranjak dari duduknya untuk berwudlu. Ia kemudian shalat empat rakaat,
setelah salam lalu mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdo’a; “Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih,wahai Tuhan
Yang Maha Penyayang, wahai Tuhan yang memiliki ‘arasy yang mulia, wahai yang
Maha melaksanakan apa yang dikehendaki, saya mohon dengan cahayaMu, dengan
kekuasaanMu yang menguasai makhluk, dan dengan rahmatMu yang meliputi segala
sesuatu, tiada Tuhan yang berhak di sembah selain Engkau, wahai Tuhan yang Maha
penolong,tolonglah saya…,tolonglah saya….,tolonglah saya…”
Baru
saja ia selesai berdo’a, tiba-tiba muncul seseorang yang menunggang kuda dengan
mengenakan jubah hijau. Ditangannya tergenggam pedang cahaya. Ketika penyamun
itu melihatnya, ia langsung menyongsongnya. Kemudian si penunggang kuda itu
menarik tubuh si penyamun dan melemparnya. Lalu si penunggang kuda menghampiri
sang pedagang seraya berkata,”Bangun… bunuh lah dia!”
“Siapakah
tuan sebenarnya? Maaf, seumurnya saya belum pernah membunuh. Hati saya tidak
tenang (jika) membunuh,” pedagang
memberi alasan.
Akhirnya si penunggang kuda itu
menghampiri sang penyamun dan membunuhnya. Setelah itu ia kembali lagi
menghampiri pedagang ,dan berkata; “Ketahuilah, saya ini adalah malaikat yang
turun dari langit ketiga. Ketika kamu berdo’a, pada do’a yang pertama saya
mendengar gemerincing dipintu-pintun langit. Kami (para malaikat) bergumam…ada
sesuatu kejadian…, kemudian muncullah do’amu yang kedua, pintu-pintu langit
menjadi terbuka dan tampak percikan cahaya seperti kembang api. Dan pada do’amu
yang ketiga turunlah malaikat Jibril kepada kami sambil berseru,’siapakah yang
bersedia menolong orang yang minta pertolongan itu?’ Saya memohon kepada Tuhan
agar mengijinkanku untuk melaksanakannya. Ketahuilah wahai hamba Allah, barang siapa
berdo’a dengan do’amu itu ketika dalam kesedihan,penderitaan, dan semua
bencana, maka Allah akan melepaskan dari kesedihan itu dan menolongnya.”
Singkat cerita pedagang itu tiba
ditempat tujuannya dengan selamat. Dia memasuki Kota Madinah dengan beroleh
keuntungan dari dagangannya setelah itu langsung sowan kepada Nabi SAW seraya
menceritakan kepada beliau tentang pengalamannya dan do’anya itu.
Rasulullah bersabda,”Sungguh Allah telah mengajarkan
nama-namaNya yang baik kepadamu, yang jika kamu berdo’a dengan menyebut nama
itu, maka akan dikabulkan do’amu. Jika Dia dimintai tolong dengan menyebut nama
itu, Dia pasti akan mengabulkan permohonanmu itu,” kata Nabi SAW seperti
diriwayatkan sahabat Anas bn Malik.
**
Do’a itu kunci kebutuhan.
Perlindungan bagi orang-orang yang terhimpit kesusahan. Pelega bagi orang-orang
yang dikejar kebutuhan. Menurut sebagian ulama, do’a yang paling mudah dikabulkan adalah do’a diwaktu sedang berada
dalam kebutuhan yang sangat mendesak.
Termasuk tatakrama dalam berdo’a adalah
berkonsentrasi dengan menghadirkan hati dan tidak lengah. Kata Nabi,
sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do’a seorang hamba yang lalai hatinya.
Satu hal yang harus diperhatikan agar do’a kita diijabah yaitu jangan memakan
makanan yang tidak halal. Nabi SAW pernah bersabda kepada Sa’ad ra,”Perbaikilah pekerjaanmu (carilah pekerjaan
yang halal), maka do’amu akan
dikabulkan.”
Do’a adalah kunci kebutuhan, dan
geriginya,kata ulama, adalah suapan-suapan yang halal. Keutamaan do’a,menurut
kalangan ahli hikmah, adalah menunjukkan kebutuhan kepada Allah. Jika tidak,
maka Allah akan melakukan apa saja yang dikehendakiNya. Karena sebaik-baik do’a
adalah yang diungkapkan dari kesedihannya.
Sebagian pendapat mengatakan, jika
Anda hendak memohon kepada Allah tentang kebutuhan Anda, maka lakukanlah hari
itu juga. Siapa tahu (saat) itu merupakan saat dikabulkannya do’a Anda.
Ibaratnya do’a itu koresponden, jadi selama koresponden jalan terus, maka urusannya akan terlaksana
dengan baik.***
(Lili Guntur)

Komentar
Posting Komentar