Langsung ke konten utama

Do'a

Di masa Rasulullah SAW ada seorang  pria yang berdagang dari Syam ke Kota Madinah dan sebaliknya. (Dalam berdagangnya) pria itu tidak bergabung dengan kafilah manapun. Dia lebih senang memasrahkan dirinya (serta dagangannya) kepada Allah. Ketika ia berangkat dari Syam menuju Madinah tiba – tiba ia dihadang penyamun yang serta merta menghunus pedangnya dari atas punggung kuda.
            “Berhenti! Berhenti…!” Sergahnya.

   Si pedagang itu lalu berhenti. Dia menatap sang penyamun itu sejenak lalu berkata,”Ambilah hartaku!, dan biarkan saya melanjutkan perjalanan!”
            “Harta itu telah menjadi milikku! Tapi aku juga menginginkan nyawamu!” Bentak si penyamun.
            “Apa yang kamu harapkan dari diriku? Sedangkan kamu telah mendapatkan hartaku. Tolong,biarkan saya melanjutkan perjalanan.”
            “Tidak! Aku ingin membunuhmu.”
            “Baiklah kalau begitu. Tapi berilah saya kesempatan untuk berwudlu dan shalat serta berdo’a kepada Tuhanku Yang Maha Mulia dan Maha Agung.”
            “Lakukan apa yang kamu inginkan.”
   Pedagang itu beranjak dari duduknya untuk berwudlu. Ia kemudian shalat empat rakaat, setelah salam lalu mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdo’a; “Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih,wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, wahai Tuhan yang memiliki ‘arasy yang mulia, wahai yang Maha melaksanakan apa yang dikehendaki, saya mohon dengan cahayaMu, dengan kekuasaanMu yang menguasai makhluk, dan dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, tiada Tuhan yang berhak di sembah selain Engkau, wahai Tuhan yang Maha penolong,tolonglah saya…,tolonglah saya….,tolonglah saya…”
            Baru saja ia selesai berdo’a, tiba-tiba muncul seseorang yang menunggang kuda dengan mengenakan jubah hijau. Ditangannya tergenggam pedang cahaya. Ketika penyamun itu melihatnya, ia langsung menyongsongnya. Kemudian si penunggang kuda itu menarik tubuh si penyamun dan melemparnya. Lalu si penunggang kuda menghampiri sang pedagang seraya berkata,”Bangun… bunuh lah dia!”
            “Siapakah tuan sebenarnya? Maaf, seumurnya saya belum pernah membunuh. Hati saya tidak tenang (jika) membunuh,”  pedagang memberi  alasan.
           
Akhirnya si penunggang kuda itu menghampiri sang penyamun dan membunuhnya. Setelah itu ia kembali lagi menghampiri pedagang ,dan berkata; “Ketahuilah, saya ini adalah malaikat yang turun dari langit ketiga. Ketika kamu berdo’a, pada do’a yang pertama saya mendengar gemerincing dipintu-pintun langit. Kami (para malaikat) bergumam…ada sesuatu kejadian…, kemudian muncullah do’amu yang kedua, pintu-pintu langit menjadi terbuka dan tampak percikan cahaya seperti kembang api. Dan pada do’amu yang ketiga turunlah malaikat Jibril kepada kami sambil berseru,’siapakah yang bersedia menolong orang yang minta pertolongan itu?’ Saya memohon kepada Tuhan agar mengijinkanku untuk melaksanakannya. Ketahuilah wahai hamba Allah, barang siapa berdo’a dengan do’amu itu ketika dalam kesedihan,penderitaan, dan semua bencana, maka Allah akan melepaskan dari kesedihan itu dan menolongnya.”

Singkat cerita pedagang itu tiba ditempat tujuannya dengan selamat. Dia memasuki Kota Madinah dengan beroleh keuntungan dari dagangannya setelah itu langsung sowan kepada Nabi SAW seraya menceritakan kepada beliau tentang pengalamannya dan do’anya itu.
Rasulullah bersabda,”Sungguh Allah telah mengajarkan nama-namaNya yang baik kepadamu, yang jika kamu berdo’a dengan menyebut nama itu, maka akan dikabulkan do’amu. Jika Dia dimintai tolong dengan menyebut nama itu, Dia pasti akan mengabulkan permohonanmu itu,” kata Nabi SAW seperti diriwayatkan sahabat Anas bn Malik.
**
Do’a itu kunci kebutuhan. Perlindungan bagi orang-orang yang terhimpit kesusahan. Pelega bagi orang-orang yang dikejar kebutuhan. Menurut sebagian ulama, do’a yang paling mudah dikabulkan adalah do’a diwaktu sedang berada dalam kebutuhan yang sangat mendesak.

Termasuk tatakrama dalam berdo’a adalah berkonsentrasi dengan menghadirkan hati dan tidak lengah. Kata Nabi, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do’a seorang hamba yang lalai hatinya. Satu hal yang harus diperhatikan agar do’a kita diijabah yaitu jangan memakan makanan yang tidak halal. Nabi SAW pernah bersabda kepada Sa’ad ra,”Perbaikilah pekerjaanmu (carilah pekerjaan yang halal), maka do’amu akan dikabulkan.”

Do’a adalah kunci kebutuhan, dan geriginya,kata ulama, adalah suapan-suapan yang halal. Keutamaan do’a,menurut kalangan ahli hikmah, adalah menunjukkan kebutuhan kepada Allah. Jika tidak, maka Allah akan melakukan apa saja yang dikehendakiNya. Karena sebaik-baik do’a adalah yang diungkapkan dari kesedihannya.

Sebagian pendapat mengatakan, jika Anda hendak memohon kepada Allah tentang kebutuhan Anda, maka lakukanlah hari itu juga. Siapa tahu (saat) itu merupakan saat dikabulkannya do’a Anda. Ibaratnya do’a itu koresponden, jadi selama koresponden  jalan terus, maka urusannya akan terlaksana dengan baik.***
                                                                   (Lili Guntur)

Komentar