Langsung ke konten utama

I m a n

Iman artinya membenarkan. Menurut devinisi selengkapnya, iman itu adalah terhindarnya hati dari perasaan was-was,riya dan lemah. Ia (iman) menembus hati, mengokohkan jiwa dan menggerakkan organ-organ tubuh untuk taat beribadah kepada Allah SWT. Ia dapat membuat sesuatu yang ghaib seakan-akan jelas terlihat, memenuhi hati dengan rasa tenang, teguh, membuat pemiliknya mudah berjihad fii sabiilillah dan menambah perasaan tawakal, penuh harap dan senantiasa takut kepada Allah.


            Achmad Saefurrijal,dalam artikelnya berjudul “Ciri Jalma Iman” (Galura,edisi Minggu I,Agustus,2011) mengatakan,iman artinya percaya. Sedangkan kepercayaan merupakan bagian daripada pekerjaan hati. Oleh sebab itu, beriman atau tidaknya seseorang tidak dapat diketahui oleh orang lain. Begitu pula halnya kita tidak mempunyai kewenangan untuk menilai bahwa seseorang itu beriman atau tidak beriman. Bahkan kita pun sulit mengukur sejauh mana tingkat kekuatan iman yang kita miliki.

            Dalam pandangan Abu Abdullah bin Khafit, seperti dikutif Abul Qasim Abdul Karim Hawazin dalam kitabnya “Ar-Risalatul Qusyairiyyah fi ‘Ilmit Tashawwuf”, yang disadur oleh Umar Faruq ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Risalah Qusyairiyah,diterbitkan oleh Pustaka Amani- Jakarta(1998), dijelaskan bahwa arti iman itu adalah pembenaran hati terhadap sesuatu yang telah dijelaskan oleh Al-Haqq tentang masalah-masalah gaib.
            Menurut istilah syar’i, iman terdiri dari tiga unsur pokok yaitu; pengikraran dengan lisan, pembenaran dengan hati dan pengamalan dengan anggota badan. Pernyataan ini merupakan pendapat segolongan besar kalangan ahlus sunnah waljama’ah. Pendapat tersebut dikuatkan oleh pernyataan Imam Syafi’i, beliau mengatakan,”Merupakan ijma para sahabat dan tabi’in mereka berpendapat bahwa iman terdiri dari ucapan,amalan, dan niat (kehendak hati). Antara satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.”
            Dalam kitab At-Tahmid, Al-Hafidz bin Abdil Barr berkata,”Ahli fikih dan ahli hadits sepakat mengatakan bahwa iman itu terdiri dari ucapan (lisan dan hati) dan amal perbuatan. Tak ada amal tanpa disertai niat. Iman akan selalu bertambah dengan adanya ketaatan, dan iman akan menyusut dengan adanya kemaksiatan.”
            Agar iman senantiasa bercahaya, seorang muslin dituntut untuk tetap memeliharanya. Allah SWT berfirman,” Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS.Al-Fath : 4)
            Rasulullah SAW bersabda,”Iman seyogianya dipelihara dengan cara memperbanyak ucapan (dzikir) laa ilaaha illallaah” (HR. Ahmad,Al-Hakim).
            Disyaratkan, bagi tiap orang kafir yang akan masuk Islam harus mengucapkan dua kalimah syahadat. Kalangan ulama mutaakhirin menyatakan bahwa tanpa mengucapkan dua kalimah syahadat belum dapat di anggap sebagai muslim (orang Islam). Dan utamanya bagi orang yang akan masuk Islam supaya mengucapkan dua kalimah syahadat,yaitu: “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasuulullah,” yang artinya; Aku bersaksi (aku mengetahui dan aku jelaskan benar tiada Tuhan yang harus di sembah dengan sebenarnya selain Allah), dan aku bersaksi(serta menyatakan) bahwa Nabi Muhammad utusan Allah.”
            Disyaratkan pula pengucapannya harus tertib antara kedua kalimat tersebut, sebab tidak beriman kepada Nabi SAW sebelum beriman kepada Allah SWT. Dan tidak disyaratkan berturut-turut antara kedua kalimat atau berbahasa Arab,meskipun ia bisa berbahasa Arab, namun yang disyaratkan yaitu mengerti apa yang diucapkan itu bahwa tiada yang disembahnya dengan sebenarnya selain Allah Yang Tunggal dan Maha Esa. Dan bagi orang musyrik disamping mengucap dua kalimah syahadat harus menambah dengan pernyataan; “Dan aku telah kafir pada semua yang telah aku persekutukan itu,dan aku lepas bebas dari semua agama yang menyalahi agama Islam.”
            Baarakallaahu lii walakum.***

                                                            (Lili  Guntur)

Komentar