Langsung ke konten utama

Proses Penciptaan Manusia


Sebelum manusia terlahir ke alam dunia yang fana ini, terlebih dahulu telah melampaui sebuah proses dalam kandungan yang disebut alam rahim. Sebagai muslim yang beriman kita harus memercayai bahwa proses di dalam kandungan (rahim) itu tidak lah hanya merupakan proses fisik belaka, akan tetapi juga meliputi proses gaib yang hanya diketahui dengan benar dan hakiki oleh Allah semata (Saefullah & Ahmad MA,“Sisi Gaib Perjalanan Manusia dari Alam Kandungan Hingga Alam Akhirat”,Karya Agung,Surabaya,2003).     
Menurut penafsiran para ulama, bahwa proses penciptaan manusia ada dua macam, yaitu penciptaan min turab(dari tanah) adalah khusus untuk penciptaan Adam AS., sedangkan bagi anak turunannya berlaku cara penciptaan yang kedua, yaitu berproses dalam rahim sebagai nutfah (cairan) selama 40 hari. Proses selanjutnya sebagai ‘alaqah(darah yang menggumpal) selama 40 hari, kemudian sebagai mudhghah(sekerat daging) selama 40 hari pula. Tiga proses ini memakan waktu 4 bulan dan dilanjutkan dengan pembentukkan badan secara perlahan sampai dengan kesempurnaannya saat dilahirkan.
            Bersumber dari Abdullah bin Ibn Mas’ud, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya (setiap) seseorang dari kamu dikumpulkan bahan kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam keadaan masih berupa setetes air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula (40 hari), kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula (40 hari), kemudian di utus kepadanya malaikat dan diperintahkan untuk menuliskan empat macam; yaitu mengenai  rezekinya,kematiannya, amalnya,celaka atau bahagianya,kemudian ditiupkan kepadanya ruh. Sesungguhnya seseorang diantaramu ada yang suka mengamalkan amalan surga sehingga tidak ada jarak antaranya dengan surga itu kecuali satu hasta(tinggal masuk saja), maka karena takdir telah mendahuluinya (dari zaman azali bahwa dia itu termasuk seorang yang celaka), sebelum meninggal ia melakukan amalan ahli neraka, maka masuk lah dia ke dalam neraka. Dan jika seseorang mengamalkan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antaranya dengan neraka, melainkan satu hasta(tinggal masuk saja), maka karena takdir telah mendahuluinya (dari zaman azali bahwa dia seorang yang bahagia) dia telah mengamalkan amalan ahli surga, maka masuk lah dia ke dalam surga).”(HR. Bukhari,Muslim)

                Dalam hadits tersebut diterangkan bahwa setelah tiga kali 40 hari (empat bulan), memasuki bulan yang kelima dalam kandungan, ruh ditiupkan kepada anak manusia oleh malaikat. Dan secara percisnya sahabat Ibn Abbas memberitakan,seperti dikutif Al-Qurtubi dalam tafsirnya Al-Jami’li Ahkamil Qur’an, bahwa peniupan ruh itu terjadi pada hari ke 130 (empat bulan sepuluh hari).
            Pada saat itu lah ditetapkan pula segala ketentuan atas kehidupan manusia atau apa yang kita kenal dengan yang namanya takdir. Apakah si jabang bayi akan menjadi laki-laki atau perempuan, bagaimana rezekinya,kapan kematiannya, dan apakah ia akan bahagia atau celaka di hari kemudian. Keterangan ini sebagaimana telah disebutkan Allah dalam Al-Qur’an yang artinya; “Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menciptakan kamu berpasang-pasangan(laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuanNya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (lauhul mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”.(QS.Al-Fathir : 11)
            Uraian ini semoga menambah keyakinan, sesungguhnya kita adalah milik Allah. Dia yang mengurus kita. Kita memang tidak pernah tahu akan ketetapan-ketetapan Allah atas diri kita sebelum kejadian itu benar-benar terjadi. Namun ini justru berarti bahwa kita harus senantiasa berusaha dan berdo’a untuk kemaslahatan diri.
            Baarakallaahu lii walakum.***
                                                                                                (Lili Guntur)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tipu Daya Syetan

      Misi yang di emban syetan adalah mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menggoyahkan keimanan seseorang. Godaan-godaan syetan dalam menjerumuskan manusia tersebut bisa berupa dengan cara menyuguhkan segala kesenangan, kenikmatan, kemaksiatan, dan kemunkaran dalam bingkai yang indah menawan. Dengan cara ini manusia diharapkan bisa terseret kedalam “samudra” buatan syetan.             Allah SWT berfiman ; “Sesungguhnya syetan itu hanyalah hendak mengadakan diantaramu permusuhan dan kebencian (lewat) minuman keras dan judi, dan menghalangimu daripada mengingat Allah dan daripada shalat. Oleh sebab itu, belum jugakah kamu mau berpikir?” (QS. Almaidah : 91)             Syetan itu amat pandai menutupi kejahatan dengan kebaikan atau keberuntungan. Sepertihalnya; judi, khamer (minuman keras),dan perjinahan. 1.       Tentang J...

Tentang Khalwat (bertapa)

Jangan sampai salah cara dalam mencari hidayah Allah SWT. Barangkari itulah yang ingin ditegaskan KH.Miftah Fadidl, dalam artikelnya berjudul “Aliran Sesat” (Pikiran Rakyat,edisi 7 Juni 2012) terkait larangan bertapa.             Beliau mengatakan, ibadah yang dianjurkan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dapat melalui saum, tahajud, dzikir, dan membaca al-Qur’an. Justru ketika bertapa,kata beliau, syetan akan lebih mudah masuk.             Ma’asyiral muslimin, ketika Nabi SAW dirundung malang, beliau mencari pencerahan batin dengan cara bertapa atau khalwat (menyepi) di Goa Hiro. Hal itu dilakukannya selama kurang lebih empat tahun disela-sela kesibukannya mengurus bisnis perdagangan bersama Siti Khodijah,istrinya, hingga akhirnya beliau mendapatkan wahyu illahi melalui perantaraan malaikat Jibril.Demikian halnya Nabi Musa AS, beliau mendapat sepul...

Ikhlas

Ikhlas dalam beramal merupakan hal penting yang harus kita usahakan dan kita laksanakan. Karena tanpa ikhlas, amalan sebesar apapun tidak ada artinya dihadapan Allah SWT.             “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu., dan barang siapa menghendaki pahala akherat, Kami berikan pula kepadanya (pahala)akherat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145) Alkisah, sepulang menunaikan ibadah haji, Muhammad Jamal sungguh merasa sudah memiliki kelebihan. Selain menyandang gelar haji, juga cukup bertambah ilmu pengetahuannya. Selama di Mekah dan Madinah ia sering menghadiri majelis ta’lim. Ikut mendengarkan berbagai uraian para syekh di tanah suci. Sesekali ikut bertanya atau berkomentar sehingga ilmu pengetahuannya mengenai agama Islam semakin bertambah. Maka begitu tiba di tanah air, Muhammad Jamal berniat segera mengamalka...